Jemaat yang Didirikan di atas Batu Karang

Jumat, 22 Februari 2019 – Pesta Takhta Santo Petrus

442

Matius 16:13-19

Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.”

***

Pengakuan Petrus – bahwa Yesus adalah Mesias – versi Injil Matius sedikit berbeda dengan versi Injil Markus. Sebagaimana tampak dalam bacaan Injil hari ini, versi Matius tidak hanya berbicara mengenai pengakuan Petrus. Ada kisah selanjutnya yang menyatakan bahwa karena pengakuan tersebut, Petrus dipercaya Yesus untuk mendirikan jemaat-Nya.

Pendirian atau pembangunan jemaat ini didasarkan pada iman akan Mesias. Jemaat diajak, diajar, dibawa, dan didasarkan pada iman akan Yesus. Pengakuan Petrus menjadi awal pembangunan jemaat. Dapat dikatakan bahwa pengakuan Petrus adalah “kiblat” – dalam arti: teladan dan dasar yang kokoh – bagi jemaat. Yang didengar, dikatakan, dialami, dikenali, dan dipercayai Petrus tentang Yesus menjadi panutan bagi siapa pun yang terbuka pada pengajarannya. Dengan mempunyai iman, kita akan dipercaya oleh Allah.

Bagaimana pembangunan jemaat itu mesti dijalankan? Sikap dasar yang dipakai adalah penggembalaan dengan penuh pengabdian seturut kehendak Allah. Panggilan Allah jangan ditanggapi dengan perasaan terpaksa, tanggapilah dengan bebas. Di samping itu, yang juga harus diusahakan adalah semangat untuk menjadi teladan. Dengan keteladanan, seorang pemimpin, pelayan, dan utusan menghayati apa yang diajarkan oleh sang Guru. Menghayati sama dengan menghidupi ajaran sang Guru dengan sukacita.

Tugas itu menjadi bagian hidup setiap pemimpin jemaat sebagai pelaksanaan atas kehendak dan panggilan Allah. Setiap pengajaran yang mereka sampaikan hendaknya menjadi sarana untuk membawa banyak orang kepada Yesus, sang Mesias. Tujuan dari setiap pengajaran atau pewartaan adalah agar setiap orang dapat percaya dan mengaku bahwa Yesus adalah Mesias dari dalam hati mereka masing-masing, bukan lagi menurut kata orang.

Jadi, saudara-saudari sekalian, sudahkah kita berkata bahwa Yesus adalah Mesias, sang Penyelamat kita? Sudahkah pengakuan itu keluar dari lubuk hati kita yang paling dalam? Jadilah bebas dan nyatakan dengan lantang bahwa Yesus adalah Tuhan, Mesias, Gembala, dan Guru bagi kita!