Bencana sebagai Peringatan untuk Bertobat

Minggu, 24 Maret 2019 – Hari Minggu Prapaskah III

197

Lukas 13:1-9

Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah kurban yang mereka persembahkan. Yesus menjawab mereka: “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian. Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.”

Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: “Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma! Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!”

***

Negeri kita adalah negeri yang rawan bencana, mulai dari gunung meletus, gempa bumi, sampai bencana akibat ulah manusia seperti banjir, tanah longsor, dan kecelakaan. Tidak sedikit kerugian material yang diakibatkan oleh bencana, bahkan sampai menelan korban jiwa. Bagaimana sikap kita saat membaca berita tentang terjadinya bencana-bencana tersebut? Apakah hal itu menggerakkan hati kita untuk ikut meringankan derita para korban, serta mendoakan para korban dan relawan yang berjibaku menolong mereka? Ataukah kita malah merasa beruntung karena bencana itu tidak menimpa kita dan keluarga kita?

Sungguh sangat disayangkan bahwa di media sosial, alih-alih berempati, banyak orang malahan mengait-ngaitkan terjadinya bencana sebagai hukuman Tuhan atas dosa para korban. Mereka tidak sadar bahwa bencana bisa saja menerjang dan menimpa orang jahat maupun orang baik.

Orang Yahudi pun kerap mengaitkan penderitaan seseorang dengan dosa-dosa yang dilakukannya. Inilah latar belakang kabar duka yang disampaikan kepada Yesus bahwa ada sejumlah orang Galilea yang berziarah ke Bait Allah di Yerusalem, tetapi dibunuh oleh Pilatus lalu darah mereka dicampur dengan darah kurban persembahan. Namun, Yesus menegaskan bahwa orang-orang Galilea yang bernasib malang itu tidak lebih berdosa daripada orang-orang Galilea lainnya. Yesus memberi contoh lagi: delapan belas orang yang tertimpa menara dekat Siloam juga tidak lebih berdosa daripada semua orang yang tinggal di Yerusalem yang kondisinya baik-baik saja.

Yesus di sini seakan menegaskan apa yang digumuli oleh Ayub bahwa orang saleh pun bisa menderita dan mengalami kemalangan. Penulis kitab Pengkotbah bahkan melihat bagaimana orang saleh terkadang justru menerima nasib layaknya orang fasik, sementara mereka yang berlaku fasik justru menikmati hidup yang aman dan sentosa (bdk. Pkh. 8:14). Penderitaan dan bencana bukanlah hukuman bagi orang fasik. Dalam Injil hari ini, Yesus justru memperingatkan bahwa bencana dan nasib malang orang lain hendaknya menjadi peringatan bagi kita untuk bertobat.

Kita semua kelak tentu akan meninggal, tetapi dengan cara dan waktu yang tidak kita ketahui. Karena itu, alih-alih menghakimi mereka yang menderita dan meninggal dalam bencana, kita justru perlu menjadikan peristiwa bencana ini sebagai peringatan bagi kita sendiri untuk segera bertobat, mengubah cara berpikir, sikap, dan tingkah laku kita agar makin selaras dengan kehendak Tuhan.

Yesus lalu memberikan perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah. Dalam perumpamaan ini, Ia menegaskan bahwa Tuhan sungguh bersabar dengan kita masing-masing dan menantikan kita untuk segera menghasilkan “buah-buah pertobatan.” Tuhan bahkan memberikan “tambahan waktu” agar kita menghasilkan buah-buah yang baik. Namun, “tambahan waktu” tersebut ternyata juga ada batasnya. Karena itu, marilah kita memanfaatkan Masa Prapaskah yang adalah masa pertobatan ini sebagai kesempatan bagi kita untuk menghasilkan buah-buah manis pertobatan. Bencana yang terjadi hendaklah membuat kita berempati kepada para korban dan sekaligus menjadi peringatan bagi kita untuk bertobat.