Maria Bunda Penebus

Senin, 25 Maret 2019 – Hari Raya Kabar Sukacita

622

Lukas 1:26-38

Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

***

Sembilan bulan sebelum merayakan Natal, kita merayakan Hari Raya Kabar Sukacita. Kita bersukacita karena janji Tuhan melalui Nabi Yesaya tentang datangnya Mesias keturunan Daud akan segera digenapi. Setelah menantikan ratusan tahun, akhirnya umat Israel akan mengalami pemenuhan janji penebusan, janji yang bahkan telah disampaikan Tuhan ketika manusia jatuh ke dalam dosa (Kej. 3:15).

Kabar sukacita itu mulai terealisasi saat Maria menyatakan persetujuannya untuk bekerja sama dalam rencana keselamatan Tuhan dengan menjadi Bunda Penebus. Tanpa kesediaan Maria, janji keselamatan Tuhan niscaya akan tertunda lagi pemenuhannya. Peristiwa ini juga menunjukkan bagaimana Tuhan menghargai kebebasan manusia untuk bekerja sama bagi rencana keselamatan-Nya. Dalam hal inilah kita patut berterima kasih kepada Bunda Maria yang bersedia mengemban tanggung jawab ini.

Dalam kebebasan-Nya, Tuhan telah memilih seorang gadis sederhana, berusia sekitar empat belas tahun, dari kota kecil Nazaret, sebuah tempat yang tidak pernah disebut dalam nubuat para nabi. Tuhan tidak memilih calon Bunda Penebus dari kalangan elite di Yerusalem ataupun dari kalangan istana Raja Herodes. Tuhan justru memilih seorang gadis belia yang telah bertunangan dengan Yusuf, dari keluarga Daud, yang memungkinkan Mesias mendapatkan garis keturunan Raja Daud, sebab Dia akan mengokohkan kerajaan Daud sampai selama-lamanya.

“Bagaimana hal itu mungkin terjadi karena aku belum bersuami?” Pertanyaan Maria ini bukan tanda ketidakpercayaan seperti Zakharia, melainkan permintaan penjelasan lebih lanjut. Malaikat Gabriel lalu menjelaskan kepada Maria bahwa Roh Kudus akan turun atasnya dan kuasa Allah akan menaungi dia, sehingga dia akan mengandung sang Mesias. Sebagaimana Tuhan sanggup menciptakan manusia pertama tanpa ayah dan ibu, demikian pula Tuhan juga mampu membuat Maria mengandung tanpa campur tangan laki-laki. Tuhan telah mengadakan mukjizat dengan membuat Elisabet yang telah lanjut usia itu mengandung. Sekarang Dia akan mengadakan mukjizat yang lebih besar lagi dengan membuat Maria yang adalah seorang perawan mengandung sang Mesias. Sungguh, bagi Allah tiada hal yang mustahil.

Menerima tanggung jawab sebagai Bunda Penebus bukanlah perkara mudah. Maria memang mendapat karunia khusus dari Tuhan, tetapi hal itu juga mengandung risiko yang besar. Bisa saja Yusuf, tunangan Maria, tidak menerima hal ini dan akan menceraikannya, atau lebih parah dari itu: mengajukan dia untuk dihukum rajam. Seandainya Yusuf menceraikannya, belum tentu juga keluarga Maria mau menerimanya kembali. Kendati mengetahui segala kemungkinan buruk itu, Maria mau berserah pada penyelenggaraan Tuhan. Dia menyanggupi dan berkata, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu.” Kesediaan Maria mengandaikan kesediaan menanggung risiko yang terburuk. Di sini Maria lebih mengandalkan masa depannya kepada Tuhan dan rencana keselamatan-Nya daripada sekadar pertimbangan-pertimbangan pribadi dan manusiawi.

Mari kita belajar pada Bunda Maria sendiri, belajar untuk terbuka pada segala kemungkinan di mana Tuhan melibatkan kita dalam rencana keselamatan-Nya. Kita sadar bahwa diri kita mempunyai banyak keterbatasan dan kelemahan. Namun, justru dalam kelemahan dan keterbatasan itu, campur tangan Tuhan dalam hidup kita akan lebih tampak.

Ketika kita mulai melibatkan diri dalam rencana keselamatan Tuhan, barangkali kita akan merasa gamang bila melihat aneka risiko dan kesulitan yang menghadang. Namun, belajar dari Bunda Maria, kita diajak untuk pertama-tama mencari kehendak-Nya dalam hidup dan panggilan kita. Biarlah Tuhan yang akan menopang, mengatur, dan menyelesaikan segala persoalan yang kita hadapi tatkala kita berusaha mencari dan melaksanakan kehendak-Nya. Bunda Maria, doakanlah kami!