Tangan yang Siap Memberi

Selasa, 18 Juni 2019 – Hari Biasa Pekan XI

132

Matius 5:43-48

“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya daripada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.”

***

Ketika melakukan pelayanan di penjara, saya berjumpa dengan para narapidana. Mereka telah melakukan kesalahan dalam hidup mereka, tetapi Tuhan tetap memberi harapan dan kesempatan baru kepada mereka. Mereka tidak henti-hentinya berharap bahwa ada kesempatan yang akan diberikan kepada mereka.

Allah membuat matahari-Nya terbit bagi orang yang jahat dan juga bagi orang yang baik. Allah kita adalah Allah yang murah hati. Allah kita selalu ingin memberi, selalu ingin memperhatikan dan menjaga kita semua. Ia tidak pilih-pilih. Apakah ketika yang jahat diberi anugerah, Allah berarti membenarkan perbuatan jahat orang itu? Tentu tidak. Yang jahat juga dilimpahi anugerah sebagai jalan menuju pertobatan. Hendaknya anugerah itu menjadi pengingat baginya bahwa keburukan yang ia lakukan tidak sejalan dengan kemurahan hati Allah yang diberikan kepadanya.

Kemurahan hati Allah menjadi teladan bagi kita semua. Kalau Anda melihat bayi kecil, coba letakkan jari Anda di atas telapak tangannya. Secara refleks, tangan si bayi akan menggenggam jari Anda. Demikianlah kita. Secara manusiawi, kita ingin menggenggam sesuatu. Sulit bagi kita untuk melepas dan memberi. Menjadi murah hati memerlukan tangan yang terbuka, tangan yang siap memberi, tangan yang tidak takut kehilangan. Kita tidak bisa memberi kalau kita sibuk dengan diri sendiri. Kita bisa memberi ketika kita menempatkan kebaikan orang lain sebagai yang utama.

Paus Fransiskus dalam salah satu homilinya mengingatkan kita semua akan keberanian untuk memberi tanpa berhitung-hitung. Kita diajak untuk memberi dengan penuh ketulusan. Kita diajak untuk percaya bahwa rahmat Tuhan akan bekerja lewat pemberian yang kita persembahkan dengan tulus.

Saudara-saudari sekalian, mari kita bertanya pada diri kita masing-masing: sejauh mana kita berani untuk memberi? Sejauh mana kita bersikap tulus dalam memberikan materi, waktu, tenaga, dan kepercayaan kepada sesama?