Ketulusan

Rabu, 19 Juni 2019 – Hari Biasa Pekan XI

183

Matius 6:1-6, 16-18

“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

***

Bacaan dari Injil Matius hari ini membuat saya ingin merenungkan tentang ketulusan. Dalam dunia pada umumnya, nilai yang bekerja adalah nilai timbal balik. Kalau saya memiliki uang tiga ribu rupiah, saya bisa membeli satu botol air mineral ukuran sedang. Kalau saya bekerja lebih dari jam kerja yang seharusnya, saya berhak mendapatkan uang lembur. Begitulah cara kerja dunia.

Yesus hari ini beberapa kali berkata, “Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” Nilai yang ditawarkan oleh Yesus dan Kerajaan Allah bukanlah nilai timbal balik. Nilai yang dibawa oleh Yesus adalah ketulusan. Hendaknya kita tulus dalam melakukan sesuatu tanpa mengharapkan imbalan. Ketika kita memberi sedekah, kita memberi karena sungguh ingin memberi. Kita sungguh ingin membantu dan membahagiakan orang yang kita beri. Kita tidak mengharapkan balasan apa-apa, bahkan balasan dari Tuhan pun tidak. Kita tulus memberi demi kebaikan orang lain.

Gara-gara terpenjara dalam nilai timbal balik, orang terkadang marah kepada Tuhan. “Saya sudah ke Gereja setiap hari, saya sudah ke Gua Maria, saya sudah memberi derma, kenapa anak saya tidak disembuhkan dari sakit? Kenapa usaha saya tidak berkembang? Kenapa saya tidak lulus dengan baik?” Itulah mentalitas nilai timbal balik. Orang memberi dengan harapan Tuhan membalas. Namun, Tuhan tidak bisa diatur oleh manusia. Lagi pula, Tuhan sudah memberi rahmat yang cukup untuk kita semua. Sadarkah kita bahwa Tuhan sudah menganugerahi kita rahmat yang sesuai dengan kebutuhan kita?

Dunia sekarang ini sudah dipenuhi oleh orang-orang egois yang mengimani nilai timbal balik, yang sibuk memperkaya diri sendiri dan haus akan tepuk tangan dari sekitarnya. Karena itulah dunia membutuhkan ketulusan. Dunia membutuhkan orang-orang tulus yang berani memberi tanpa mengharap kembali. Dunia membutuhkan orang-orang tulus yang memikirkan kebaikan sesama dan dunia secara sungguh-sungguh. Hanya orang-orang tulus yang dapat membawa perubahan dan kebaikan bagi hidup bersama. Saudara-saudari sekalian, apakah kita termasuk di dalamnya?