Berani Berkata Cukup

Kamis, 20 Juni 2019 – Hari Biasa Pekan XI

168

Matius 6:7-15

“Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.]

Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”

***

Tuhan mengajarkan kita untuk berdoa. Namun, kita perlu berdoa dengan tepat. Kita diajak untuk memahami dengan sungguh-sungguh apa yang menjadi permohonan kita. Hendaknya kita memohon apa yang kita butuhkan, bukan apa yang menjadi keinginan sesaat kita. Keinginan manusia tidak akan ada habisnya. Karena itu, kita memohon rahmat kebijaksanaan agar dapat mengetahui apa yang sungguh-sungguh kita butuhkan.

“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” Kata “cukup” adalah sebuah kata keramat yang sekarang ini sudah jarang kita dengar. Banyak orang tidak memiliki kepekaan akan batas. Mereka menginginkan segala sesuatu tanpa menyadari keterbatasan hidup.

Memang sekarang kita banyak menemukan restoran yang menawarkan menu all you can eat (makan sepuasnya). Di situ kita diundang untuk menikmati segala yang ada tanpa batas. Namun, kehidupan dan restoran adalah dua hal yang berbeda. Hidup tanpa batas adalah sesuatu yang mustahil. Kehidupan yang kita jalani adalah kehidupan yang memiliki batas. Karena itu, kita diajak untuk berani berkata “cukup.” Tanpa keberanian untuk berkata “cukup,” kita akan kehilangan hal-hal yang penting dalam hidup. Kita akan mencoba mengambil semuanya, meskipun sebenarnya tidak mampu. Tanpa sikap “cukup,” hidup kita menjadi hidup yang rakus.

Saudara-saudari sekalian, apakah kita berani berkata “cukup”? Apakah kita mampu memilih apa yang sungguh penting di dalam hidup kita dan melepaskan hal-hal yang kurang penting?