Bersaudara dalam Iman kepada Tuhan

Selasa, 23 Juli 2019 – Hari Biasa Pekan XVI

127

Matius 12:46-50

Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. Maka seorang berkata kepada-Nya: “Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.” Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya: “Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?” Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

***

Dalam perjalanan panggilan sebagai seorang religius, saya mengalami kedekatan dengan begitu banyak orang yang sama sekali tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan saya. Kedekatan yang saya alami bahkan melebihi kedekatan dengan kerabat sedarah. Iman dan keberadaan saya sebagai seorang biarawatilah yang menjadi pengikat kedekatan itu. Artinya, saya dekat dengan banyak orang karena iman dan panggilan saya sebagai seorang biarawati. Perjumpaan, pengenalan, dan kedekatan dengan mereka saya alami dalam perjalanan melaksanakan tugas pengutusan. Inilah persaudaraan dalam iman, yang sering kali lebih kuat daripada ikatan kekerabatan.

Bacaan Injil hari ini menceritakan tentang seseorang yang menyampaikan kepada Yesus bahwa ibu dan saudara-saudara-Nya berada di luar dan berusaha menemuni-Nya. Yesus saat itu berada di tengah kerumunan orang banyak yang sedang mendengarkan ajaran-ajaran-Nya. Tanggapan Yesus cukup mengherankan. Ia tidak menyuruh orang banyak memberi jalan kepada ibu dan saudara-saudara-Nya agar mereka bisa datang mendekat. Yesus malah mempertanyakan, “Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?” Selanjutnya, Yesus menunjuk ke arah para murid sambil mengatakan bahwa merekalah ibu dan saudara-saudara-Nya.

Apakah dengan itu Yesus pura-pura tidak mengenal keluarga-Nya? Ataukah Ia ingin menyangkal mereka? Tentu tidak demikian.

Yesus dengan itu sesungguhnya hendak menegaskan bahwa para murid merupakan perwakilan dari orang-orang yang melakukan kehendak Bapa. Dengan itu pula Ia mau mengatakan bahwa relasi di dalam Dia melampaui relasi kekeluargaan atau kekerabatan. Di dalam Yesus, kita semua tanpa kecuali adalah saudara. Kita bersaudara tanpa membedakan keluarga, status, pangkat, atau apa pun yang didasarkan pada patokan-patokan lahiriah dan duniawi. Kita semua bersaudara atas dasar iman kepada Allah. Kita diikat dan disatukan oleh satu tekad dan semangat, yakni untuk melaksanakan kehendak Bapa di surga.