Berjaga-jaga Sebelum Saatnya Tiba

Jumat, 30 Agustus 2019 – Hari Biasa Pekan XXI

133

Matius 25:1-13

“Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu. Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.”

***

Ada seorang siswa yang selalu tidur ketika proses belajar mengajar berlangsung. Teguran dan pembinaan berkali-kali dari pihak sekolah tidak membuat siswa ini mengubah kebiasaan buruknya itu. Belum lagi ia ternyata juga malas mengikuti berbagai macam ulangan. Ia bersikap meremehkan, enggan belajar, enggan pula mempersiapkan diri untuk itu. Pada akhir semester, barulah ia memohon-mohon agar diberikan ulangan susulan baginya. Tampaknya ini adalah suatu strategi, dengan asumsi bahwa peserta ulangan susulan pasti akan dipermudah, dikasihani, dan diberi nilai yang bagus. Sayang, asumsi itu keliru. Yang bersangkutan akhirnya tidak naik kelas karena nilainya rendah.

Bacaan Injil hari ini berbicara tentang lima gadis bodoh dan lima gadis bijaksana. Perbedaan kedua kelompok ini terletak pada masalah persiapan dan persediaan minyak, dengan tujuan agar pelita yang mereka bawa tetap menyala sampai kedatangan pengantin. Kelompok gadis bodoh tidak tepat dalam melakukan perhitungan dan tidak mempersiapkan diri dengan baik. Sementara itu, kelompok gadis bijaksana, selain menjaga pelita mereka tetap menyala, ternyata juga mempersiapkan minyak cadangan. Ketika pengantin yang ditunggu-tunggu datang, pelita mereka tetap menyala berkat persediaan minyak yang memadai.

Sebagaimana kedatangan pengantin dalam perumpamaan tersebut, kedatangan Yesus Kristus juga tidak diketahui saatnya. Kita tidak tahu kapan pastinya Ia akan datang kembali. Karena itu, yang bisa dilakukan adalah berjaga-jaga. Salah satunya adalah menjaga hati, dalam arti memelihara hidup kita agar diisi dengan hal-hal yang benar dan baik, yang berkenan di hadapan Allah. Hindari rasa malas, kendalikan pengaruh-pengaruh dari luar agar tidak mendatangkan hal-hal negatif kepada kita.

Menjaga hati dalam situasi dunia saat ini sangat penting, sebab sekeliling kita penuh dengan nilai-nilai yang diputarbalikkan sehingga mengarah kepada hal-hal yang tidak baik. Jika hidup kita ditentukan oleh dunia luar, niscaya kita akan kehabisan energi dan sulit memusatkan diri kepada Tuhan. Marilah kita selalu berjaga-jaga untuk menyambut kedatangan Yesus Kristus. Kita jaga hati kita dengan memelihara dan mengembangkan iman. Kita penuhi hati kita dengan perbuatan-perbuatan kasih. Semoga dengan itu kita dijumpai-Nya layak dan siap sedia menerima kedatangan-Nya.