Yesus Datang ke Rumah Kita

Sabtu, 21 Desember 2019 – Hari Biasa Khusus Adven

153

Lukas 1:39-45

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

***

Bacaan Injil hari ini bercerita tentang kedatangan Maria ke rumah Elisabet. Kunjungan ini membuat Elisabet bahagia dan mengalami sukacita yang penuh. Anak yang ada di dalam kandungannya bahkan sampai melonjak kegirangan. Membacanya saya menjadi tertarik untuk berbicara tentang “kedatangan, datang, dan mendatangi.”

Tentu ada banyak latar belakang yang membuat seseorang mendatangi sesamanya. Ada kedatangan yang menghadirkan sukacita, tetapi ada pula yang sebaliknya. Kedatangan penagih utang ke suatu rumah tentu saja tidak membuat penghuni rumah itu bahagia. Hal berbeda dirasakan oleh seorang gadis yang didatangi kekasihnya di malam Minggu. Sudah pasti hatinya merasa gembira dan berbunga-bunga.

Demikianlah kedatangan tidak selalu membangkitkan perasaan sukacita, gembira, dan bahagia, tetapi bisa juga menimbulkan rasa sedih, kecewa, dan takut. Bagaimana dengan kedatangan Yesus yang sedang kita persiapkan saat ini? Apakah kehadiran-Nya membuat kita bahagia? Apakah kita menyambut-Nya dengan penuh semangat? Ataukah sebaliknya, kita bersikap biasa-biasa saja, bahkan tidak antusias, terhadap-Nya?  

Yesus datang ke dunia untuk membawa kabar gembira dan keselamatan. Ia datang membawa hal-hal yang baik, bukan untuk dirasakan di dunia ini saja, tetapi sampai pada hidup yang kekal. Karena itu, mari kita mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Hiasilah diri kita bagaikan rumah yang siap menantikan kehadiran seorang tamu agung. Caranya adalah dengan melakukan pertobatan dan bersikap rendah hati.