Kehendak Allah dan Keinginan Manusia

Jumat, 17 Januari 2020 – Peringatan Wajib Santo Antonius

336

1 Samuel 8:4-7, 10-22a

Sebab itu berkumpullah semua tua-tua Israel; mereka datang kepada Samuel di Rama dan berkata kepadanya: “Engkau sudah tua dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau; maka angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain.” Waktu mereka berkata: “Berikanlah kepada kami seorang raja untuk memerintah kami,” perkataan itu mengesalkan Samuel, maka berdoalah Samuel kepada TUHAN. TUHAN berfirman kepada Samuel: “Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka.”

Dan Samuel menyampaikan segala firman TUHAN kepada bangsa itu, yang meminta seorang raja kepadanya, katanya: “Inilah yang menjadi hak raja yang akan memerintah kamu itu: anak-anakmu laki-laki akan diambilnya dan dipekerjakannya pada keretanya dan pada kudanya, dan mereka akan berlari di depan keretanya; ia akan menjadikan mereka kepala pasukan seribu dan kepala pasukan lima puluh; mereka akan membajak ladangnya dan mengerjakan penuaian baginya; senjata-senjatanya dan perkakas keretanya akan dibuat mereka. Anak-anakmu perempuan akan diambilnya sebagai juru campur rempah-rempah, juru masak dan juru makanan. Selanjutnya dari ladangmu, kebun anggurmu dan kebun zaitunmu akan diambilnya yang paling baik dan akan diberikannya kepada pegawai-pegawainya; dari gandummu dan hasil kebun anggurmu akan diambilnya sepersepuluh dan akan diberikannya kepada pegawai-pegawai istananya dan kepada pegawai-pegawainya yang lain. Budak-budakmu laki-laki dan budak-budakmu perempuan, ternakmu yang terbaik dan keledai-keledaimu akan diambilnya dan dipakainya untuk pekerjaannya. Dari kambing dombamu akan diambilnya sepersepuluh, dan kamu sendiri akan menjadi budaknya. Pada waktu itu kamu akan berteriak karena rajamu yang kamu pilih itu, tetapi TUHAN tidak akan menjawab kamu pada waktu itu.”

Tetapi bangsa itu menolak mendengarkan perkataan Samuel dan mereka berkata: “Tidak, harus ada raja atas kami; maka kami pun akan sama seperti segala bangsa-bangsa lain; raja kami akan menghakimi kami dan memimpin kami dalam perang.” Samuel mendengar segala perkataan bangsa itu, dan menyampaikannya kepada TUHAN. TUHAN berfirman kepada Samuel: “Dengarkanlah permintaan mereka dan angkatlah seorang raja bagi mereka.”

***

Para pemimpin Israel mendatangi Samuel untuk menyampaikan tuntutan mereka menyangkut masa depan bangsa itu. Mereka mengatakan bahwa Samuel sudah tua dan bahwa anak-anaknya tidak pantas untuk menggantikannya. Karena itu, mereka menuntut agar Samuel mengangkat seorang pemimpin baru. Yang mereka minta adalah seorang raja.

Dalam pandangan mereka, sistem kerajaan amat menguntungkan bagi kepentingan militer. Lembaga kepemimpinan yang lama tidak lagi memadai untuk menghadapi situasi politik yang baru, khususnya dalam menghadapi ancaman orang Filistin. Mereka ingin menjadi “seperti bangsa-bangsa lain.”

Permintaan itu membuat Samuel kesal. Ia menganggap usul mereka sebagai ungkapan ketidakpercayaan terhadap dirinya. Namun, ketika berdoa, Allah memberitahukan kepadanya bahwa sebenarnya bukan Samuel yang mereka tolak, melainkan Allah sendiri. Kedudukan sebagai raja di sini dianggap sebagai milik Allah. Allah tidak melarang Samuel mengangkat seorang raja. Meskipun demikian, Samuel harus menyatakan kepada mereka “hukum raja,” supaya menjadi jelas bahwa di bawah pemerintahan seorang raja, mereka akan kehilangan kemerdekaan karena raja akan berhak untuk mengambilnya.

Sesuai dengan perintah Allah, Samuel kemudian memaparkan “hukum raja” yang nantinya akan membebani orang Israel. Banyak hal yang harus dikorbankan oleh bangsa Israel demi terselenggaranya pemerintahan kerajaan. Orang Israel yang selama ini merdeka justru akan menjadi budak raja. Merekalah yang menghendaki hal itu, sehingga mereka sendiri yang harus menanggung akibatnya.

Saudara-saudari terkasih, Israel mau mencari jalannya sendiri dengan mengabaikan kehendak Allah. Mereka meninggalkan Allah dan mengikuti keinginan sendiri. Allah mengingatkan Israel, tetapi mereka mengabaikan peringatan itu. Akibatnya, Israel harus menanggung akibatnya sendiri.