Allah Sumber Kebahagiaan Sejati

Senin, 8 Juni 2020 – Hari Biasa Pekan X

474

Matius 5:1-12

Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.”

***

Kita semua menginginkan dan mengusahakan hidup bahagia. Ada yang berbahagia karena bekerja keras sehingga kebutuhan hidupnya tercukupi; ada yang berbahagia karena menikah dengan orang yang dikasihi; ada pula yang berbahagia karena tidak menikah demi pengabdian kepada Tuhan dan sesama. Sejauh mendatangkan berkat bagi diri sendiri dan sesama, apa pun pilihan orang agar dirinya bahagia kiranya bukan masalah, sebab ukuran kebahagiaan bagi masing-masing orang memang berbeda-beda.   

Bacaan Injil hari ini biasa kita kenal sebagai “Sabda Bahagia.” Bacaan ini mengingatkan kita akan ukuran kebahagiaan yang sejati. Namun, membaca perikop ini mungkin membuat kita bertanya-tanya: Bagaimana bisa kemiskinan, dukacita, kelemahlembutan, kelaparan, dan kehausan memberikan kebahagiaan? Mungkinkah kita bahagia dengan menjadi pembawa damai, dengan mengalami celaan, penganiayaan, dan penderitaan? Hal itu sangat bertentangan dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada orang yang mencoba menggapai kebahagiaan dengan berlomba-lomba menjadi miskin atau berebut mengalami kesulitan.

Akan tetapi, memang demikianlah ukuran kebahagiaan yang diajarkan Yesus. Ini seperti para petani sederhana di desa yang mengalami kebahagiaan dan ketenangan meskipun hidup mereka jauh dari kemewahan. Ini seperti para pemulung yang tetap menampakkan wajah gembira dalam perjuangan hidup mereka yang sangat berat. Ini juga seperti orang yang mengalami penganiayaan tetapi tetap mampu memberikan pengampunan.

Yesus mengingatkan kita bahwa sumber kebahagiaan sejati adalah Tuhan. Apa yang selama ini kita sebut sebagai sumber kebahagiaan kita adalah milik Tuhan, yang dapat hilang lenyap dalam sekejap jika dikehendaki-Nya. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Karena itu, hal-hal duniawi tidak dapat kita jadikan ukuran kebahagiaan, termasuk harta benda, bahkan usia kita sendiri. Menggantungkan hidup kepada Tuhan adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan kebahagiaan yang tidak bisa direbut oleh siapa pun. Menggantungkan hidup kepada Tuhan berarti juga melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya. Semoga kita senantiasa mengalami kebahagiaan karena menjadi putra-putri Allah.