Demi Kemuliaan Tuhan

Minggu, 23 Agustus 2020 – Hari Minggu Biasa XXI

77

Matius 16:13-20

Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia Mesias.

***

Secara umum, kekuasaan dipahami sebagai kewenangan yang didapatkan seseorang atau sekelompok orang guna melaksanakan – mengurus, memerintah, memelihara, mengawasi, atau menciptakan – sesuatu. Kewenangan yang diperoleh dipergunakan untuk mengatur tatanan atau kehidupan bersama. Semua aspek kehidupan bersama tidak bisa dipisahkan dari kekuasaan. Dalam bidang politik, kekuasaan menjadi seperti magnet sehingga orang berlomba-lomba mengejar dan mendapatkannya, kadang dengan menghalalkan berbagai macam cara. Kekuasaan mengundang banyak kesan negatif karena sering kali menggunakan cara-cara yang juga negatif.

Bacaan-bacaan suci hari ini berbicara tentang kekuasaan menurut kacamata rohani. Dalam bacaan pertama (Yes. 22:19-23), setelah memecat Sebna, Tuhan memberikan kekuasaan kepada hamba-Nya, Elyakim bin Hilkia. Kekuasaan yang diberikan Tuhan kepada Elyakim bukanlah kekuasaan politis untuk memerintah atau memperlakukan orang lain secara sewenang-wenang. Alih-alih begitu, kekuasaan yang dimaksud adalah seperti seorang bapa yang mengayomi, menjaga, dan melindungi seluruh anggota keluarga.

Dalam praktik harian, seorang bapa harus “melupakan” dirinya demi orang yang ia cintai. Seorang bapa akan mengambil posisi terdepan ketika keluarganya berada dalam bahaya. Ia akan pasang badan di muka. Begitulah gambaran kekuasaan yang mengayomi, melindungi, serta memberi keselamatan dan rasa aman kepada orang lain.

Dalam bacaan Injil, Petrus mendapat “kekuasaan” dari Yesus untuk memimpin umat yang didirikan oleh-Nya. Kekuasaan Petrus tidak hanya menyangkut hal-hal duniawi, tetapi juga mengenai hal-hal surgawi. Petrus mendapat kuasa untuk menjamin keberlangsungan dan keselamatan umat baik di dunia maupun di surga.

Sepanjang perjalanan Gereja, para pemimpin melaksanakan kewenangan mereka dalam memelihara, menjaga, menghargai, serta menjamin kehidupan rohani umat. Kuasa itu diterima dari Tuhan demi kemuliaan nama-Nya. “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” kata Rasul Paulus dalam bacaan kedua (Rm. 11:33-36).

Tidak hanya bagi para pemimpin Gereja, kekuasaan Tuhan juga diberikan kepada kita masing-masing. Ia memperlengkapi kita dengan berbagai kemampuan, bakat, dan anugerah. Kita diberi kuasa untuk merawat, melindungi, dan peduli terhadap sesama. Kekuasaan yang dianugerahkan Tuhan tersebut harus kita gunakan untuk kebaikan bersama dan tentunya demi kemuliaan Tuhan sendiri.

Melalui bacaan-bacaan suci hari ini, mari kita merefleksikan diri kita. Apakah kita telah memainkan peran dalam menjaga dan merawat kehidupan? Apakah kita senantiasa peduli terhadap sesama yang menderita, atau malah suka bertindak sewenang-wenang dengan kuasa kita?