Malaikat Pendoa

Jumat, 2 Oktober 2020 – Peringatan Wajib Para Malaikat Pelindung

223

Matius 18:1-5, 10

Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”

“Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga.”

***

Kesulitan kehidupan doa kita terletak di sini: Mungkin pikiran kita penuh dengan gagasan mengenai Allah, tetapi hati kita tinggal jauh dari-Nya. Karena itu, dengankanlah hati kita. Di situ, Yesus berbicara secara akrab dengan kita. Doa pertama-tama dan terutama adalah mendengarkan Yesus yang bersemayam dalam lubuk hati kita. Ia tidak berteriak, tidak pula memaksa-maksa. Suara-Nya tidak tinggi, tetapi lebih mendekati bisikan. Yesus berbicara dengan suara kasih yang lembut.

Apa pun yang terjadi dengan hidup kita, teruslah mendengarkan suara Yesus dalam hati kita. Dengarkanlah Dia secara aktif dan penuh perhatian, sebab di dalam dunia yang ramai dan terus bergerak ini, suara kasih Allah mudah sekali terabaikan dan tidak terdengar lagi. Kita perlu menyisihkan waktu setiap hari untuk mendengarkan Allah, tidak masalah bahkan kalau kita hanya punya waktu sepuluh menit. Menyisihkan waktu sepuluh menit bagi Yesus setiap hari dapat membuat hidup kita berubah secara mendasar.

Memang tenang setiap hari selama sepuluh menit bukanlah hal yang mudah. Berbagai suara lain yang sangat ramai dan mengganggu, suara-suara yang tidak datang dari Allah, akan datang dan berusaha menarik perhatian kita. Namun, kalau waktu doa harian ini terus kita pertahankan, pelan namun pasti kita akan mendengar suara kasih-Nya yang lembut. Hari demi hari kita akan semakin rindu untuk mendengarkan-Nya. Kita pun menjadi sadar bahwa ada malaikat yang mengajak kita memandang Bapa yang hendak mengatakan, “Engkaulah anak-Ku yang terkasih!”

Marilah kita berdoa: “Tuhan, kami mencintai-Mu. Engkau adalah Allah yang lemah lembut dan rendah hati. Tunjukkanlah kepada kami kebaikan dan kelembutan-Mu. Biarlah hari-hari ini menjadi kesempatan bagi kami untuk membongkar semua hambatan yang menghalangi diri kami dalam mengalami kasih-Mu. Mampukanlah kami untuk menanggapi panggilan-Mu, sehingga kami semakin dekat dengan-Mu.”

Diolah dari Henri J.M. Nouwen, Tuhan Tuntunlah Aku (Yogyakarta: Kanisius, 1994).