Bersyukur dan Berterima Kasih

Rabu, 11 November 2020 – Peringatan Wajib Santo Martinus dari Tours

127

Lukas 17:11-19

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Lalu Ia memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari orang asing ini?” Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”

***

Dalam satu hari, berapa kalikah kita bersyukur? Berapa kali kita berterima kasih? Syukur dan terima kasih adalah dua hal yang tak terpisahkan. Di mana ada terima kasih, di situ ada syukur yang menjadi alasannya. Di mana ada syukur, di situ ada terima kasih yang diucapkan. Kebiasaan luhur ini merupakan cara untuk menikmati hidup. Peristiwa orang Samaria yang kembali lagi kepada Yesus setelah disembuhkan dari penyakit kusta menjadi pengajaran bagi kita untuk membiasakan diri bersyukur dan berterima kasih. Orang Samaria itu dipenuhi berkatnya oleh Yesus, sehingga mampu menikmati hidupnya. 

Sebuah kutipan menyatakan, “Cara untuk menikmati kebahagiaan hidup adalah dengan bersyukur.” Jika kita mudah mensyukuri segala yang kita terima, kita akan memiliki lebih banyak hal yang membahagiakan. Sebaliknya, jika kita selalu terobsesi pada apa yang tidak kita miliki, kita tidak akan pernah merasa cukup dan tidak pernah mampu menikmati hidup. Bersyukur merupakan tanda bahwa kita tidak pernah menuntut banyak kepada Tuhan. Apa yang diberikan Tuhan bukan sembarangan, melainkan pasti memiliki tujuan.

Persoalannya, mungkin kita tidak bisa bersyukur dan berterima kasih karena mengalami kegagalan, kesedihan, atau kekecewaan. Jika itu yang terjadi, mari kita belajar lebih dewasa dengan meyakini kasih Tuhan. Kasih Tuhan adalah kasih yang sempurna, tanpa batas, dan tidak pilih-pilih. Tuhan akan membantu setiap orang agar mengalami kematangan hidup. Karena itu, ketika kita mengalami situasi yang tidak mengenakkan, itu bukan berarti Tuhan tidak mengasihi kita. Tuhan sesungguhnya sedang berusaha mematangkan kita agar memiliki iman yang tangguh.

Melalui bacaan Injil hari ini mari kita merenung: Apakah kita termasuk golongan sembilan orang kusta yang disembuhkan Yesus tetapi tidak bersyukur dan tidak berterima kasih kepada-Nya? Ataukah kita seperti orang Samaria yang kembali untuk menjumpai Yesus? Orang beriman seharusnya memiliki tanggung jawab untuk bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan atas penyertaan-Nya dalam perjalanan hidup.

Tuhan diingat jangan hanya dalam situasi sulit, tetapi juga dalam situasi yang membahagiakan, menguntungkan, dan penuh kenyamanan. Dengan senantiasa bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan, kita semakin mampu untuk memuliakan nama-Nya. Itulah cara kita mengungkapkan iman. Dengan selalu bersyukur dan berterima kasih, kita akan semakin merasakan bahwa hidup yang kita jalani ini sungguh nikmat dan bermakna. Hidup bukan hanya sebatas mengalir, tetapi menjadi kesempatan bagi kita untuk mendapatkan aneka nilai, sekaligus merasakan kehadiran Tuhan yang nyata dan mendalam.