Beriman seperti Maria

Minggu, 20 Desember 2020 – Hari Minggu Adven XIV

102

Lukas 1:26-38

Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

***

Dalam kisah hidup dan panggilan kebanyakan nabi Perjanjian Lama, kita jumpai bahwa ketika Tuhan memanggil seseorang untuk mengambil peran tertentu dan membawa pesan keselamatan-Nya kepada bangsa Israel, orang itu justru menolak dan merasa tidak layak untuk melakukan apa yang diminta. Misalnya saja kisah panggilan Nabi Yeremia. Awalnya Yeremia menolak karena merasa dirinya masih belum cukup umur dan tidak pandai berbicara. Namun, Tuhan menguatkannya dan berjanji akan menuntunnya dalam melaksanakan tugas yang dipercayakan. Yeremia lalu bersedia dan mengatakan “ya” untuk panggilan tersebut.

Dalam bacaan Injil hari ini, kita berjumpa dengan kisah panggilan yang serupa. Penginjil Lukas mengisahkan tentang kedatangan Gabriel, seorang utusan Allah, kepada Maria. Sang malaikat mendatangi Maria dengan sebuah berita, yakni tentang rencana keselamatan Allah. Sebagai sosok yang “beroleh kasih karunia di hadapan Allah,” Maria dipanggil untuk sebuah peran unik dalam mewujudkan rencana agung tersebut. Dikatakan bahwa ia akan mengandung dan melahirkan seorang anak yang akan disebut sebagai “Anak Allah Yang Mahatinggi”.

Awalnya Maria sangat terkejut. Ia bertanya, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi?” Para nabi mula-mula ragu untuk menanggapi panggilan Allah, Maria pun merasa demikian. Berhadapan dengan pertanyaan tersebut, Malaikat Gabriel meyakinkan Maria bahwa Roh Kudus akan datang kepadanya dan kekuatan Yang Mahatinggi akan menaunginya. Maria akhirnya terlepas dari keraguannya. Dengan imannya yang kokoh dan tahan banting, ia bersedia dan menjawab “ya” untuk sepenuhnya ambil bagian dalam rencana agung yang dipercayakan Allah kepadanya. Ia berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

Sebagai murid-murid Yesus, kita juga dipanggil untuk ambil bagian dalam mewujudkan karya keselematan Allah di tengah dunia melalui cara hidup kita sehari-hari. Dengan talenta dan kemampuan yang kita miliki, kita masing-masing dipanggil untuk berperan aktif dalam membangun dunia menjadi sebuah komunitas kasih, komunitas yang penuh dengan semangat persaudaraan.

Model partisipasi aktif itu berbeda-beda, sesuai dengan pergumulan kita masing-masing. Namun, seperti pengalaman Maria, di tengah berbagai tantangan dan berhadapan dengan pergumulan-pergumulan kehidupan, kita mesti tetap teguh dalam iman dan kuat dalam pengharapan. Sebagaimana Maria, dalam setiap jawaban “ya” atas undangan Allah, kita tidak boleh hilang kendali, tetapi harus selalu mengandalkan kekuatan Roh Kudus. Dengan iman yang mantap, kita harus percaya bahwa “bagi Allah tidak ada yang mustahil”. Bagi kita, Maria adalah teladan yang sempurna, sebab dalam hidupnya, ia sungguh-sungguh menghayati segala rencana Tuhan dan membiarkan dirinya dibimbing oleh Roh Kudus.