Beriman Tanpa Takut

Sabtu, 26 Desember 2020 – Pesta Santo Stefanus

53

Matius 10:17-22

“Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya. Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.

Orang akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah akan anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka. Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.”

***

Barangkali kita merasa terkejut bahwa sehari setelah merayakan kelahiran sang Juru Selamat dengan penuh sukacita, Gereja Katolik merayakan pesta kemartiran Stefanus, seorang yang beriman kepada Yesus.

Dalam bacaan pertama (Kis. 6:8-10; 7:54-59), kisah kemartiran Stefanus dikisahkan kepada kita. Stefanus adalah seorang murid Kristus yang penuh dengan karunia dan kuasa Roh Allah. Ia sering kali melakukan mukjizat di depan orang banyak. Stefanus dibunuh karena imannya akan Kristus. Dengan kuasa Roh Kudus, ia tidak takut dan justru bersuara lantang memberikan kesaksian tentang karya keselamatan Tuhan bagi umat manusia.

Sementara itu, dalam bacaan Injil, Yesus menguatkan hati para murid-Nya dalam menghadapi berbagai penolakan atas kesaksian iman mereka. Dengan ini, Yesus menegaskan kepada mereka bahwa menjadi pengikut-Nya berarti mesti siap dengan risiko penolakan. Dalam menghadapi setiap penolakan itu, jangan pernah takut karena Tuhan senantiasa memberikan kekuatan. Panggilan untuk menjadi seorang pengikut Kristus sejatinya tidak terluput dari berbagai penganiayaan dan penolakan.

Di satu sisi, Stefanus adalah model nyata pemuridan di tengah penolakan. Menjelang kematiannya, di hadapan Mahkamah Agama yang congkak dan angkuh, Stefanus tidak takut memberikan kesaksian tentang kemuliaan Allah dan takhta Kristus yang bangkit. Ia tidak merasa gentar untuk berseru kepada Tuhan, “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” Seperti iman Stefanus, keutuhan hubungan kita dengan Tuhan mestinya juga memungkinkan kita untuk berani memberi kesaksian tentang kebesaran dan belas kasihan-Nya dalam hidup sehari-hari. Di tengah berbagai tantangan dan penolakan, kita tidak boleh cemas, tetapi hendaknya membiarkan hidup kita dipenuhi dan diberdayakan Tuhan. Seperti kesaksian Stefanus mempengaruhi banyak orang sehingga percaya, kesaksian hidup kita akan kebesaran cinta Tuhan mestinya dapat mempengaruhi orang lain untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Di sisi lain, kalender liturgi Gereja menempatkan pesta Santo Stefanus sehari setelah Hari Raya Kelahiran Kristus. Barangkali ini bertujuan untuk memberi kita sebuah penegasan akan konsekuensi yang harus dipikul oleh seorang murid Kristus. Seperti Stefanus, menjadi murid Kristus menuntut kesiapan kita untuk memberikan hidup secara utuh dan tanpa syarat kepada-Nya, bahkan sampai dianiaya dan dihukum mati. Kita harus siap dan rela mengorbankan segalanya untuk Yesus, setia kepada kehendak-Nya, dan mencintai sesama tanpa pamrih walau ditolak.

Akhirnya, dengan meneladani semangat Santo Stefanus, semoga kita semakin berani dan teguh untuk menyerahkan segalanya kepada kehendak Tuhan, semakin berani dan teguh pula dalam menolong sesama tanpa pamrih.