Panggilan untuk Melayani

Rabu, 26 Mei 2021 – Peringatan Wajib Santo Filipus Neri

63

Markus 10:32-45

Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem dan Yesus berjalan di depan. Murid-murid merasa cemas dan juga orang-orang yang mengikuti Dia dari belakang merasa takut. Sekali lagi Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan Ia mulai mengatakan kepada mereka apa yang akan terjadi atas diri-Nya, kata-Nya: “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, 10:34 dan Ia akan diolok-olokkan, diludahi, disesah dan dibunuh, dan sesudah tiga hari Ia akan bangkit.”

Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: “Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!” Jawab-Nya kepada mereka: “Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?” Lalu kata mereka: “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu.” Tetapi kata Yesus kepada mereka: “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?” Jawab mereka: “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka: “Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan.”

Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

***

Saya yakin kita semua sangat akrab dengan kisah heroik Bunda Teresa dari Kalkuta. Beliau dikenal sebagai sosok yang dikagumi dunia internasional karena jasanya yang luar biasa terhadap orang-orang termiskin di antara kaum miskin di kota Kalkuta, India. Konon, ketika seorang jurnalis menemukan Bunda Teresa sedang merawat orang-orang sakit di pinggir jalan di pemukiman kumuh kota Kalkuta, ia berkomentar lepas, “Bahkan walau dibayar satu juta dolar sekalipun, saya tidak akan melakukan pekerjaan seperti itu!” Bunda Teresa lalu menanggapinya, “Saya juga tidak!” Sejatinya Bunda Teresa melakukan semuanya itu karena cintanya kepada Tuhan, dan oleh sebab itu, berusaha meniru teladan-Nya. Dedikasi dan semangat pengorbanan yang total itu menjadikan Bunda Teresa sebagai teladan pelayanan dan keberpihakan kepada orang-orang kecil.

Bacaan Injil hari ini berkisah tentang Yesus dan para murid-Nya yang sedang dalam perjalanan ke Yerusalem. Yesus saat itu mengungkapkan kepada mereka mengenai penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya di Yerusalem. Namun, para murid tampak tidak memahami semuanya. Di tengah ketidakpahaman tersebut, dua dari antara para murid, yakni Yakobus dan Yohanes, mengajukan permintaan yang mengejutkan. Mereka ingin agar kelak diperkenankan duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus. Ambisi itu terkait erat dengan ketidaktahuan mereka akan kemesiasan Kristus, yang sejatinya bukan Mesias politis seperti yang mereka bayangkan. Sepuluh rasul yang lain ternyata sama saja. Mereka marah kepada kedua anak Zebedeus itu agaknya karena memiliki ambisi yang sama.

Setelah menegur Yakobus dan Yohanes, Yesus memanggil semua murid-Nya. Ia duduk bersama mereka, lalu menjelaskan tentang ambisi dan kebesaran dalam mengikut diri-Nya: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu…” Yesus “mencubit” kesadaran mereka dengan mengambil realitas kehidupan manusia. Sebagian besar pemerintah di dunia cenderung bersikap otoriter, sewenang-wenang, dan bahkan saling mengeksploitasi satu sama lain. Keinginan berkuasa dan bukan untuk melayani adalah akar dari semua penyakit sosial, ketidakadilan, korupsi, dan dosa-dosa lain yang merusak tatanan hidup bermasyarakat. Mereka sering lupa akan cita-cita asli kepemimpinan sosial dan hanya tertarik kepada yang satu frekuensi dengan ambisi mereka.

Hal itu sangat bertolak belakang dengan cita-cita pelayanan Kristus. Sejatinya melayani satu sama lain bukan hanya panggilan bagi mereka yang mendedikasikan dirinya dalam hidup bakti, melainkan dialamatkan untuk semua orang beriman. Sebagai murid Kristus di tengah dunia, kita semua dipanggil untuk melayani sesama, tanpa pamrih, dan tanpa tebang pilih. Ukuran kemuridan kita tidak didasarkan pada kekuatan yang kita miliki, tetapi pada pelayanan yang kita berikan kepada sesama. Cita-cita kemuridan Kristus sangat sederhana, yakni pelayanan yang ditawarkan kepada satu sama lain. “Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Apakah kita siap menerima dan menghayati cita-cita kemuridan Kristus itu dalam hidup setiap hari?