Melakukan Perbuatan dengan Sungguh-sungguh

Kamis, 10 Juni 2021 – Hari Biasa Pekan X

42

Matius 5:20-26

“Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.”

***

“Lebih baik mata merah karena belajar daripada rapor merah karena kurang belajar”; “lebih baik menderita di medan latihan daripada mati di medan perang”. Dua kalimat bijak ini kurang lebih hendak mengatakan bahwa dalam melakukan suatu tindakan, apalagi yang berkaitan dengan sesuatu yang sangat penting dalam hidup, lakukanlah itu dengan sungguh-sungguh.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menyampaikan ajaran yang sangat penting, yaitu tentang bagaimana agar masuk ke dalam Kerajaan Surga. “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.” Agar bisa masuk ke dalam Kerajaan Surga, para murid diajak untuk melakukan tindakan yang radikal, tindakan di atas rata-rata. Siapakah ahli Taurat dan orang Farisi? Mengapa Yesus sampai begitu “sinis” dan keras terhadap kedua kelompok ini?

Orang Farisi dan ahli Taurat adalah kelompok dalam masyarakat Yahudi yang taat dengan hukum-hukum dan peraturan keagamaan. Tentu hal itu baik, tetapi ada hal mendasar yang masih kurang dalam diri mereka. Masalahnya, mereka melakukan perbuatan baik hanya supaya dilihat orang. Apabila tidak ada yang melihat, mungkin mereka akan berbuat sebaliknya, sebab motivasi utama mereka adalah supaya mendapat pujian dari orang lain. Berhadapan dengan orang munafik seperti ini memang merepotkan dan menjengkelkan. Itu sebabnya Yesus mengajak kita supaya hidup keagamaan kita harus jauh lebih baik daripada kedua kelompok itu.

Bukan itu saja, Yesus juga mengajarkan hal yang lain, yaitu tentang menjaga perkataan. Membunuh adalah perbuatan dosa berat, sehingga siapa pun yang melakukan pembunuhan harus mendapat hukuman. Namun, bagi Yesus, membunuh tidak hanya berarti mengambil nyawa seseorang secara fisik. Membunuh orang secara non-fisik, misalnya dengan memfitnah, juga dipandang sebagai perbuatan yang mendatangkan hukuman. Karena itu, Yesus mengajak kita untuk tidak marah terhadap sesama, tidak berkata yang tidak baik terhadap sesama, misalnya dengan menjelek-jelekkan, merendahkan, atau mengafir-ngafirkan orang lain.

Yesus juga berbicara tentang persembahan kepada Allah. Mempersembahkan kurban di atas mezbah adalah suatu perbuatan bakti yang sangat baik kepada Allah. Persembahan kepada Allah bukan hanya sarana untuk mengucapkan syukur kepada-nya, melainkan juga suatu cara untuk memperbaiki relasi dengan-Nya yang mungkin sebelumnya rusak akibat dosa. Namun, membangun relasi yang baik dengan sesama tidak boleh diabaikan. Dua hal ini, yaitu membangun relasi dengan Tuhan dan dengan sesama harus berjalan serentak.