Mendengarkan Suara-suara Kenabian

Jumat, 30 Juli 2021 – Hari Biasa Pekan XVII

73

Matius 13:54-58

Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mukjizat-mukjizat itu? Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.” Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mukjizat diadakan-Nya di situ.

***

Setelah berkeliling ke sejumlah tempat, suatu ketika Yesus kembali ke tempat asal-Nya. Yang dimaksud tempat asal Yesus tidak lain adalah Nazaret. Nazaret pada zaman dahulu sekadar sebuah kota kecil, sehingga penduduknya tidak terlalu banyak. Karena itu, sosok Yesus sudah pasti dikenal baik oleh orang-orang di kota itu.

Kegiatan Yesus di Nazaret tampaknya cukup padat, antara lain mengajar di rumah ibadat dan mengadakan beberapa mukjizat. Perkataan dan perbuatan Yesus sangat luar biasa, sampai-sampai orang berseru, “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mukjizat-mukjizat itu?” Pertanyaan ini mesti dilihat sebagai ekspresi kekaguman, bukan ketidakpercayaan. Orang-orang Nazaret terkesan dengan ajaran dan tindakan Yesus yang hebat dan penuh kuasa.

Namun, arah angin cepat sekali berbalik. Orang-orang itu mendadak teringat akan status Yesus sebagai anak tukang kayu. Tukang kayu, lebih tepatnya tukang bangunan, bukan pekerjaan hina. Profesi ini tidak termasuk kerja kaum rendahan. Namun, tukang kayu tetaplah tukang kayu, sehingga Yesus dirasa tidak cocok untuk berkhotbah di hadapan orang banyak. Mereka juga teringat bahwa Yesus berasal dari kalangan mereka sendiri, dan bahwa ibu serta saudara-saudari-Nya pun mereka kenal. Mengingat latar belakang Yesus yang biasa-biasa saja, orang Nazaret kehilangan minat untuk mendengarkan ajaran-Nya dan enggan untuk percaya kepada-Nya.

Menghadapi sikap yang tidak mengenakkan itu, Yesus mencoba untuk memakluminya. Ia teringat pada sebuah pepatah: “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.” Mengidentifikasi diri-Nya sebagai nabi, Yesus mengutip pepatah itu untuk memahami nasib yang umumnya dialami oleh para utusan Allah, yakni ditolak justru oleh orang-orang terdekat, bahkan oleh keluarga sendiri.

Meskipun demikian, penolakan seperti itu tetap saja sulit dimengerti. Bagaimana mungkin orang malah memperhatikan status seseorang dan latar belakang keluarganya, padahal dengan mata kepala sendiri mereka telah melihat perbuatan-perbuatan besar orang itu dan dengan telinga sendiri mereka telah mendengarkan kebenaran perkataan-perkataannya? Karena itu, pesan bacaan Injil hari ini bagi kita: Bukalah selalu hati kita bagi karya-karya Allah yang datang menyapa kita dengan segala macam cara, yang paling remeh sekalipun. Tuhan dapat mengutus siapa pun untuk menyalurkan rahmat-Nya dan menyampaikan kehendak-Nya.

Pada masa sekarang, orang-orang yang bergelar nabi memang sudah tidak ada lagi, tetapi Tuhan tidak pernah memadamkan semangat kenabian di hati umat-Nya. Mari kita membuka telinga untuk mendengarkan suara-suara itu, yang bermaksud menuntun hidup kita agar senantiasa berada di jalan kebenaran.