Mungkinkah Mencintai Musuh?

Kamis, 9 September 2021 – Hari Biasa Pekan XXIII

52

Lukas 6:27-38

“Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu. Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu. Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka. Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian. Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu darinya, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.”

“Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”

***

Mustahil, konyol, dan tidak masuk akal! Mungkin itu reaksi yang pertama kali muncul ketika kita mendengar perintah Yesus: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.” Bagi kebanyakan orang Katolik, ajaran Yesus ini bahkan adalah hal yang paling sulit: Sangat ideal, tetapi bukan hal yang mudah untuk dipraktikkan. Kenyataannya, saat ini dunia kita penuh dengan kekerasan, teror, saling menuntut, saling mengumbar aib di media sosial, penuh pula dengan rasisme, diskriminasi, dan sebagainya. Apakah dalam situasi ini kita hanya tinggal diam dan tidak membalas dendam? Karena itu, kita sering berpikir bahwa tuntutan Yesus ini di luar kapasitas kita sebagai manusia.

Kita sering memahami “cinta” sebagai perasaan tertarik atau suka kepada seseorang. Ketika kita mencintai seseorang, kita pun mengharapkan respons yang sama dari orang itu. Dengan kata lain, cinta itu menyangkut soal afeksi dan keintiman relasi.

Dalam perikop ini, Yesus menggunakan istilah agape untuk “kasih”. Agape sendiri berarti cinta tak bersyarat. Cinta agape adalah cinta yang menghendaki kebaikan bagi orang yang dicintai, tanpa mengharapkan balasan darinya. Inilah cinta yang diperintahkan Yesus kepada kita ketika Dia mengatakan, “Kasihilah musuhmu.” Yesus sendiri menunjukkan cinta agape ketika mendoakan mereka yang menyalibkan-Nya. Apakah dengan mendoakan mereka, Yesus mengharapkan orang-orang itu membebaskan diri-Nya? Tidak. Yesus mendoakan mereka karena mencintai mereka. Karena itu, dalam doa-Nya, Yesus tidak meminta Bapa untuk melakukan pembalasan, tetapi untuk mengampuni mereka.

Apakah manusia biasa seperti kita ini memiliki kapasitas untuk mencintai orang tanpa syarat? Ada kisah nyata yang dimuat di salah satu film dokumenter tentang cinta. Di Amerika, ada seorang yang dipenjara seumur hidup karena merampok dan membunuh seorang perempuan muda. Perempuan muda ini sejak kecil diasuh dan tinggal bersama neneknya. Mengetahui bahwa cucunya dibunuh, apa yang dilakukan si nenek kepada si pembunuh? Si nenek setiap hari ke penjara untuk mengunjungi dan berbicara dengannya. Film ini memuat kesaksian dari si pembunuh yang setiap hari dikunjung si nenek. Dia mengatakan bahwa selama hidupnya ia tidak mengenal dan merasakan cinta. Sejak kecil dia sudah biasa melihat dan merasakan kekerasan karena hidup di jalanan. Kedatangan si nenek yang mengajaknya berbicara setiap hari membuat dia merasakan apa itu cinta. Cinta nenek tersebut mengubah pandangan orang ini tentang kehidupannya di masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang.

Apa yang dilakukan oleh nenek itu kepada si pembunuh cucunya adalah cinta agape. Kita semua, seperti si nenek, memiliki kapasitas untuk mewujudkan cinta agape dalam kehidupan sehari-hari.