Iman yang Gigih

Minggu, 24 Oktober 2021 – Hari Minggu Biasa XXX

107

Markus 10:46-52

Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Dan ketika Yesus keluar dari Yerikho, bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong, ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan. Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Banyak orang menegurnya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: “Anak Daud, kasihanilah aku!” Lalu Yesus berhenti dan berkata: “Panggillah dia!” Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: “Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau.” Lalu ia menanggalkan jubahnya, ia segera berdiri dan pergi mendapatkan Yesus. Tanya Yesus kepadanya: “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang buta itu: “Rabuni, supaya aku dapat melihat!” Lalu kata Yesus kepadanya: “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.

***

Setiap orang yang tidak menyerah, tetapi tetap menunggu dalam iman dan pengharapan, akan menggapai segalanya!

Dalam hal kengototan, saya yakin tidak ada yang bisa melampaui Bartimeus, pengemis buta yang dikisahkan penginjil Markus kepada kita hari ini. “Tempat kerja” Bartimeus ialah di pinggir jalan yang mengarah dari Yerikho ke Yerusalem. Ia tidak memiliki siapa-siapa bersamanya, hanya bertemankan nyanyian sedih, di mana ia meminta sedekah dan berharap kepada belas kasihan dari siapa pun yang lewat. Namun, di tengah kesepian dan penderitaannya, Bartimeus tidak kehilangan harapan. Ia tidak berpasrah pada nasibnya.

Ketika ada orang yang memberi tahu dia bahwa Yesus sedang lewat, Bartimeus mulai berteriak tanpa henti, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Terlepas dari keterbatasan fisiknya untuk menyaksikan segala mukjizat yang telah dilakukan Yesus, ia justru memiliki iman. Ia percaya bahwa Yesus akan dapat memulihkan keadaannya. Orang-orang yang merasa aneh dengan teriakan seorang pengemis buta mencoba membungkam, bahkan mulai memarahi dirinya. Namun, Bartimeus tidak menyerah. Ia justru terus berseru meneriakkan nama Yesus dan memohon belas kasihan-Nya. Seruan permohonan itu pada akhirnya dijawab. Kebutaan Bartimeus dipulihkan Yesus. Karena permohonannya terkabul, tentunya ini merupakan anugerah luar biasa bagi Bartimeus.

Saya sangat terkesan dengan kegigihan Bartimeus ini. Ia belum pernah bertemu Yesus sebelumnya, tetapi pasti pernah mendengar tentang Dia dan mukjizat-mukjizat yang dilakukan-Nya. Kegigihan Bartimeus mengubah hidupnya: Ia keluar dari kegelapan dan keterpurukan, serta mendapatkan kembali penglihatannya. Bartimeus tidak tahu apakah Yesus akan mendengarkannya, tetapi ia yakin bahwa Yesus akan mengabulkan permohonannya. Karena itu, ia terus mencoba dan tidak mau diam walaupun ada yang berusaha membungkamnya.

Dalam ziarah iman kristiani kita, kegigihan Bartimeus adalah salah satu model sikap doa. Di hadapan segala macam kesulitan dan cobaan yang dihadapi, kita mestinya tetap gigih dan rendah hati memohon belas kasihan Tuhan. Dalam doa apa pun yang kita panjatkan kepada Tuhan, kita perlu mengakui kekecilan kita di hadapan-Nya. Kita meminta kekuatan untuk melihat kebenaran-Nya dan bersedia mengikuti perintah-Nya. Barangkali kita sering mengeluh dan berkata, “Saya tidak tahu bagaimana cara berdoa yang baik.” Mari kita ikuti contoh Bartimeus: Dia bersikeras memanggil Yesus, lau secara ringkas dan terus terang mengatakan kepada-Nya apa yang dia butuhkan.

Apakah kita merasa kurang iman? Katakanlah kepada-Nya, “Tuhan, tambahkanlah imanku!” Apakah kita mulai merasa malas untuk berdoa? Katakanlah kepada-Nya, “Tuhan, buatlah supaya aku dapat melihat.” Situasi Bartimeus, si pengemis buta, memang tampak menyedihkan. Namun, yang jauh lebih menyedihkan adalah mereka yang pelan-pelan kehilangan imannya. Untuk itu, marilah kita juga saling menasihati satu sama lain, “Kuatkanlah hatimu, Tuhan ingin berbicara denganmu.”