Dunia Ini Akan Berlalu

Selasa, 23 November 2021 – Hari Biasa Minggu XXXIV

49

Lukas 21:5-11

Ketika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah dan mengagumi bangunan itu yang dihiasi dengan batu yang indah-indah dan dengan berbagai-bagai barang persembahan, berkatalah Yesus: “Apa yang kamu lihat di situ — akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.”

Dan murid-murid bertanya kepada Yesus, katanya: “Guru, bilamanakah itu akan terjadi? Dan apakah tandanya, kalau itu akan terjadi?” Jawab-Nya: “Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Dia, dan: Saatnya sudah dekat. Janganlah kamu mengikuti mereka. Dan apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu terkejut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera.”

Ia berkata kepada mereka: “Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit.”

***

Dalam bacaan Injil hari ini, beberapa orang dikisahkan mengagumi keindahan Bait Allah. Namun, Yesus malah menubuatkan kehancuran bangunan itu. Nubuat Yesus tersebut menyadarkan kita akan kefanaan dunia ini. Dunia ini bersifat sementara, termasuk apa pun yang ada di dalamnya. Hari ini ada, besok bisa jadi tidak ada. Hal ini juga tampak ketika Yesus berbicara tentang parousia. Dengan itu, Ia tidak bermaksud menakut-nakuti ataupun mengancam kita, tetapi mengajak kita untuk memaknai hidup kita secara mendalam.

Di hadapan kesementaraan dunia, kita perlu bertanya pada diri kita sendiri apa yang menjadi dasar hidup kita. Menjawab pertanyaan itu, kita mungkin akan dengan mudah menyatakan bahwa dasar hidup kita adalah Allah. Namun, apakah sungguh demikian? Dalam kenyataan, banyak orang yang terikat pada dunia. Mereka menaruh harapan pada harta benda. Ada juga yang mengandalkan kuasa dan relasi. Kalau kita sungguh mengandalkan Allah, kita akan mengucapkan selamat tinggal pada belenggu-belenggu duniawi, lalu berdoa dan berserah kepada-Nya. Biarlah Allah yang menjadi andalan kita; biarlah Allah yang menuntun dan membimbing kita.

Saat liburan kuliah dahulu, saya suka membaca buku. Salah satu buku favorit saya adalah Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya. Dalam buku ini, sang penulis yakni Ajahn Brahm selalu mengulang-ulang nasihat yang sama dalam cerita yang berbeda-beda: “Ini pun akan berlalu!” Nasihat tersebut menyadarkan saya bahwa dunia memang akan berlalu, tetapi Allah tidak akan berlalu. Mari berserah pada Allah, alih-alih menyerahkan diri pada dunia.