Menjadi Pribadi yang Terkasih

Minggu, 9 Januari 2022 – Pesta Pembaptisan Tuhan

50

Lukas 3:15-16, 21-22

Tetapi karena orang banyak sedang menanti dan berharap, dan semuanya bertanya dalam hatinya tentang Yohanes, kalau-kalau ia adalah Mesias, Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu: “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari aku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.”

Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”

***

Tulisan Henry Nouwen tentang pergulatan menjadi pribadi yang terkasih mengantar saya untuk merenungkan bacaan Injil hari ini. Saya kutipkan tulisan tersebut berikut ini:

“Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.” Ya, ada suara seperti itu, suara yang datang dari atas dan dari dalam, yang berbisik lembut namun tegas. Tentu tidak mudah untuk mendengar suara seperti itu dalam dunia yang dipenuhi dengan teriakan, “Kamu tidak berguna, kamu jelek, kamu tidak berarti, kamu hina, kamu bukan siapa-siapa,” dan sebagainya.

Suara-suara sumbang ini begitu kuat dan terus-menerus, sehingga mudah bagi kita untuk memercayainya. Ini adalah perangkap yang amat kuat, yang disebut perangkap penolakan diri. Perangkap terbesar dalam hidup kita bukanlah keberhasilan, popularitas, atau kekuasaan, melainkan penolakan diri. Memang keberhasilan, popularitas, dan kekuasaan dapat menjadi godaan besar, namun sifat menggoda itu sering kali berasal dari godaan yang lebih besar untuk menolak diri. Kalau kita percaya kepada suara yang menyebut kita tidak berarti dan tidak pantas dicintai, keberhasilan, popularitas, dan kekuasaan lalu dapat dengan mudah dilihat sebagai jalan keluar yang menarik. Namun, perangkap yang sesungguhnya adalah penolakan diri.

Penolakan diri adalah musuh paling besar bagi hidup rohani karena langsung berlawanan dengan suara suci yang memanggil kita sebagai “yang dikasihi”. Kebenaran hidup dan keberadaan kita diungkapkan dalam pernyataan bahwa “kita dikasihi”.

Suara suci itu selalu menyapa, tetapi rasanya kita jauh lebih ingin mendengar suara lain yang lebih keras yang berkata, “Buktikan bahwa kamu berguna. Lakukan sesuatu yang penting, hebat, atau berpengaruh, dan kamu akan memperoleh cinta yang kamu inginkan.” Bukan, bukan suara itu yang perlu kita dengarkan, melainkan bahwa kita adalah pribadi yang dikasihi.

Diolah dari Henry J.M. Nouwen, Diambil, Diberkati, Dipecah, Dibagikan (Yogyakarta: Kanisius, 2008).