Dipanggil Menjadi Saksi

Senin, 10 Januari 2022 – Hari Biasa Pekan I

57

Markus 1:14-20

Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, dilihat-Nya Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia.

***

Dalam banyak lukisan seniman Bosnia yang bernama Safet Zec muncul sebuah benang merah. Detail ini bisa dilihat secara jelas pada karyanya Turun dari Salib, sebuah lukisan yang berada di Gereja Gesu, Roma. Benang merah ini, yang kerap kali terlihat sebagai bekas darah, adalah sebuah sulaman atau rajutan pelbagai zaman, pribadi-pribadi yang berbeda, dan tempat-tempat berlainan, untuk mengungkapkan kesatuan mendalam dari umat manusia dalam suatu narasi unik dan berkelanjutan. Ini adalah darah yang dibagikan, yang menawarkan keakraban manusiawi yang membuka jalan-jalan persaudaraan dan harapan.

Kisah hidup kita masing-masing juga saling terkait dengan kisah-kisah sesama kita, dengan peristiwa dan tempat-tempat konkret. Di sana, keterbatasan dan kelebihan yang kita miliki terungkap, yang telah mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan kita. Kisah yang merajut ruang-ruang, tempat-tempat, dan masa-masa dalam hidup kita sejatinya membuat identitas kita berakar.

Semua proses pertobatan memiliki kisah di belakangnya. Di situlah Tuhan membuka “humus” untuk menumbuhkan suatu hidup baru, sebuah hidup dalam kelimpahan. Pertobatan tidak menyangkal masa lalu, tetapi mengubahnya menjadi pupuk yang menyuburkan kesaksian bagi siapa saja yang percaya pada rahmat ilahi. Pertobatan bukanlah suatu momen tersendiri dan terasing dari keberadaan hidup kita, melainkan suatu proses yang penuh dengan perjumpaan, yakni perjumpaan dengan Tuhan, diri kita sendiri, dan dengan sesama kita.

Hari ini, Yesus berseru, “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Para murid mendengar dan mengikuti warta itu. Mereka dituntun dalam penziarahan. Di tengah tugas sehari-hari, mereka dituntun dalam rahmat Tuhan untuk mengolah hidup, baik masa lalu, masa kini, maupun masa depan, agar mengalami hidup baru yang berkelimpahan.

Diolah dari Arturo Sosa SJ, Berjalan Bersama Ignatius (Yogyakarta: Kanisius, 2021).