Ikutlah Aku

Sabtu, 15 Januari 2022 – Hari Biasa Pekan I

68

Markus 2:13-17

Sesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka. Kemudian ketika Ia berjalan lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Lewi lalu mengikuti Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia. Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya: “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

***

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus dikisahkan melihat Lewi, anak Alfeus, duduk di rumah cukai. Ia lalu berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!” Menanggapi panggilan itu, Lewi pun berdiri, lalu mengikuti Dia.

Kita juga dipanggil untuk hidup seperti Yesus. Maksud keseluruhan karya Yesus adalah membawa kita untuk masuk ke dalam rumah Bapa. Yesus tidak hanya datang untuk membebaskan kita dari belenggu dosa dan maut, tetapi juga untuk membawa kita masuk ke dalam pusat kehidupan ilahi-Nya. Baru kalau kita mengerti maksud utama karya pelayanan Yesus, kita akan mengerti makna kehidupan rohani. Segala sesuatu yang menjadi milik Yesus diberikan kepada kita untuk kita terima.

“Berada di dunia, tetapi tidak dari dunia”. Dalam kata-kata tersebut terungkap gagasan pokok mengenai kehidupan rohani, di mana di dalamnya kita seutuhnya diubah oleh Roh kasih. Membangun hidup rohani tidak berarti bahwa kita harus meninggalkan keluarga, pekerjaan, atau mengubah cara kerja kita. Hidup rohani tidak berarti bahwa kita harus menarik diri dari kegiatan sosial dan politik, atau meninggalkan minat kita terhadap sastra dan seni. Hidup rohani tidak menuntut mati raga yang keras dan waktu doa berjam-jam. Perubahan-perubahan seperti itu mungkin tumbuh dari kehidupan rohani, dan bagi orang-orang tertentu, pilihan yang radikal memang perlu. Namun, sebenarnya kehidupan rohani dapat dihayati dengan berbagai macam cara yang tak terhitung jumlahnya.

Yang baru adalah bahwa kita tidak lagi mencemaskan berbagai macam hal, tetapi memusatkan diri pada Kerajaan Allah. Yang baru ialah bahwa kita dibebaskan dari berbagai dorongan dan desakan yang datang dari dunia ini, sehingga mampu mengarahkan hati kita pada satu hal yang penting. Yang baru adalah bahwa kita tidak lagi mengalami berbagai hal, entah itu orang atau peristiwa, sebagai penyebab kecemasan kita, tetapi mulai mengalaminya sebagai kesempatan yang dipakai oleh Allah untuk menyatakan kehadiran-Nya.

Diolah dari Henry Nouwen, Jesus a Gospel (Yogyakarta: Kanisius, 2012).