Kuatkanlah Hatimu

Senin, 30 Mei 2022 – Hari Biasa Pekan Paskah VII

138

Yohanes 16:29-33

Kata murid-murid-Nya: “Lihat, sekarang Engkau terus terang berkata-kata dan Engkau tidak memakai kiasan. Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari Allah.” Jawab Yesus kepada mereka: “Percayakah kamu sekarang? Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”

***

Ada banyak kesulitan dan penderitaan yang menghadang hidup kita, apalagi di masa pandemi Covid-19 ini. Banyak orang kehilangan pekerjaan, bangkrut, bahkan kehilangan orang yang dicintai akibat virus yang mematikan ini. Kita semua diliputi oleh rasa takut. Bisa jadi iman kita bahkan sampai goyah karena merasa Tuhan sudah menjauh dan meninggalkan kita. Sulit rasanya untuk berdoa kepada-Nya, sehingga kita lalu sibuk mengandalkan diri kita sendiri.

Yesus hari ini berkata kepada kita, “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” Kita diharapkan menguatkan hati. Hati adalah pusat pribadi manusia. Hendaknya hati kita teguh berpegang pada Yesus, jangan sampai menjadi keras dan menolak penyelamatan dari-Nya. Kuatkan hati kita agar tidak berpaling kepada hal-hal duniawi. Hendaknya hati kita teguh untuk menjadi saksi-Nya di dunia ini.

Kita bisa belajar dari Paulus yang dipakai Tuhan menjadi alat-Nya (bacaan kedua, Kis. 19:1-8). Ia membawa sesama untuk ikut masuk dalam keselamatan melalui pembaptisan dalam nama Tuhan Yesus. Seperti Paulus, kita juga diajak untuk semakin berbagi kasih dan saling bahu-membahu di tengah berbagai kesulitan di dunia ini, sehingga kehadiran Tuhan, sumber kebahagiaan kekal, dapat dirasakan dalam kehidupan nyata.

Yesus mengalami penderitaan dan kemudian kemuliaan. Murid-murid-Nya akan mengalami hal yang sama. Mereka menanggung penderitaan selama masih hidup di dunia ini, tetapi kelak akan masuk dalam kebahagiaan kekal karena mengenal Kristus. Inilah juga situasi yang kita hadapi.

Semoga bacaan-bacaan hari ini meneguhkan kembali semangat kemartiran dan militansi kita dalam beriman, sehingga pada saat mengalami penganiayaan, godaan, dan kesulitan, kita tidak meninggalkan iman, tetapi tetap setia karena Kristus selalu menguatkan dan menyertai kita. Mari bertanya pada diri kita masing-masing: Seberapa besar militansi iman kita sebagai pengikut Kristus, terutama ketika berhadapan dengan situasi yang tidak mudah?