Selalu Mengandalkan Allah

Senin, 25 Juli 2022 – Pesta Santo Yakobus

84

Matius 20:20-28

Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.” Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

***

Sering kali kita menyebut, mendaraskan, atau menyerukan, “Tuhanlah kekuatanku!” Seruan itu menyatakan atau mengungkapkan keyakinan kita kepada Tuhan, bahwa kita adalah pribadi yang percaya kepada-Nya. Selaras dengan itu, sudah layak dan sepantasnya jika kita mengandalkan kekuatan Tuhan dalam menjalani kehidupan ini.

Santo Paulus menyatakan bahwa kekuatan Allah yang berlimpah-limpah menyertai, menopang, dan menjadi inspirasi pelayanannya (bacaan kedua hari ini, 2Kor. 4:7-15). Ia merasakan kekuatan Allah itu ketika mengalami berbagai tekanan dalam hidup dan karya pelayanan. Ketika ditindas, ia tidak terimpit; ketika habis akal, ia tidak putus asa; ketika dianiaya, ia tidak ditinggalkan sendirian; ketika diempaskan, ia tidak binasa. Itulah pengalaman iman sekaligus pengalaman hidup Paulus yang senantiasa mengandalkan Allah.

Pengalamannya itu juga dapat menjadi pengalaman hidup kita. Kita diundang untuk terus percaya kepada Allah. Dalam Dia, ada kekuatan, rahmat, dan kasih karunia yang berlimpah ruah. Percaya kepada Allah berarti menyandarkan seluruh hidup kepada-Nya. Kita menaruh harapan kepada Allah dengan keyakinan bahwa Dia pasti selalu mengulurkan tangan kasih-Nya untuk hidup kita.

Paulus juga tidak kehabisan kata dalam pelayanan dan pewartaannya akan Yesus Kristus. Berkat imannya, ia selalu dapat berbicara tentang Kritus yang hidup. Lalu, bagaimana dengan kita? Sering kali kita kurang percaya kepada Allah saat melakukan tugas pelayanan atau pewartaan. Kita kurang memohon dan kurang mengandalkan kekuatan-Nya. Alih-alih itu, kita lebih mengandalkan kekuatan dan pikiran sendiri, padahal resep pelayanan yang manjur adalah selalu bekerja sama dengan Allah dalam setiap hal yang kita lakukan.

Mengandalkan Allah dan kekuatan-Nya akan menyisihkan sikap-sikap dan keinginan dalam diri kita untuk memperoleh balas jasa, penghargaan, dan penghormatan, sebagaimana keinginan ibu dari Yakobus dan Yohanes agar anak-anaknya itu boleh duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus dalam Kerajaan Surga. Kasih karunia Allah akan berbuah secara berlimpah ketika kita berani menjadi pelayan dan hamba yang melulu melaksanakan kehendak-Nya. Ingat selalu bahwa tanpa kekuatan dan penyertaan Allah, kita tidak dapat bersaksi tentang cinta kasih-Nya. Selamat merayakan Pesta Santo Yakobus.