Ketakutan

Kamis, 22 September 2022 – Hari Biasa Pekan XXV

72

Lukas 9:7-9

Herodes, raja wilayah, mendengar segala yang terjadi itu dan ia pun merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan, bahwa Yohanes telah bangkit dari antara orang mati. Ada lagi yang mengatakan, bahwa Elia telah muncul kembali, dan ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit. Tetapi Herodes berkata: “Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?” Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus.

***

Herodes adalah seorang pemimpin yang penuh ketakutan dan mudah merasa terancam. Kehadiran orang lain sering kali ia lihat bukan sebagai teman, melainkan ancaman. Sebenarnya orang seperti ini kurang percaya diri dan selalu merasa kecil. Ia memiliki self-esteem yang rendah. Oleh karena itu, ia selalu mencari pengakuan dari orang lain. Apabila ia adalah seorang pemimpin, ia cenderung menyingkirkan orang yang dianggap mengancam kekuasaannya.

Di sisi lain, Yesus adalah seorang pemimpin yang karismatik. Ia bagaikan magnet yang menarik banyak orang untuk datang kepada-Nya. Ia mengajar dengan penuh kuasa dan mengadakan banyak mukjizat. Perkataan dan perbuatan-Nya selalu viral. Karena itu, Yesus menjadi populer dan mempunyai banyak followers di antero negeri. Namun, Ia tidak pernah jemawa ataupun merasa terancam. Ia tetap friendly dan low profile. Ini karena Yesus mengenal diri-Nya secara mendalam dan tahu purpose driven-Nya. Ia tidak tergoyahkan oleh popularitas. Ia selalu fokus dan on the track.

Kita sekarang hidup di zaman media sosial, di mana orang mudah terkenal dan apa pun bisa viral. Hidup banyak orang, teristimewa orang muda, selalu digerakkan oleh tren dan konten. Orang mudah merasa terancam ketika orang lain lebih terkenal. Tanpa sadar, mereka dikuasai oleh kegelisahan, sama seperti Herodes. Di tengah situasi demikian, kita semestinya mengikuti sikap Yesus. Kita harus mengenal diri kita secara mendalam dan menemukan purpose driven kita masing-masing. Kita perlu belajar untuk hening dan berdoa, sama seperti yang dilakukan Yesus. Dalam hening dan doa, kita bisa bermenung dan berkomunikasi dengan Tuhan, sehingga bisa mengenal diri kita dan menemukan kehendak Tuhan atas hidup kita. Itulah healing yang sesungguhnya. Selamat beraktivitas. Tuhan memberkati!