Anak Manusia

Sabtu, 24 September 2022 – Hari Biasa Pekan XXV

45

Lukas 9:43b-45

Ketika semua orang itu masih heran karena segala yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya.

***

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menyebut diri-Nya sebagai Anak Manusia. Sebenarnya sebutan “Anak Manusia” mempunyai kaitan dengan penglihatan apokaliptik Daniel (Dan. 7:13-14). Dalam penglihatan itu, Daniel menyaksikan kemuliaan yang diberikan kepada Anak Manusia. Yesus menggunakan sebutan “Anak Manusia” untuk menyatakan diri-Nya sebagai sang Mesias yang digambarkan oleh Nabi Daniel. Namun, Yesus juga menggunakan sebutan itu dalam kaitan dengan misi penebusan-Nya. Ia menyebutkan bahwa Anak Manusia harus menderita dan mati. Apakah konsep kemuliaan dan penderitaan dalam sebutan “Anak Manusia” saling bertentangan? Tidak! Justru di dalam diri Yesus, kedua konsep ini menyatu. Penderitaan dan kematian Yesus adalah jalan menuju kemuliaan-Nya.

Gambaran “Anak Manusia” menunjukkan bahwa penderitaan bukanlah hal yang sia-sia, melainkan justru merupakan jalan kemuliaan. Yesus menetapkan hati untuk menapaki jalan penderitaan. Ia memang bergulat, tetapi tetap berkomitmen, sebab melihat tujuan akhir dari jalan itu, yakni kemuliaan. Jalan penderitaan inilah yang diberikan Yesus kepada kita sebagai murid-murid-Nya. Nubuat Yesus menyadarkan kita agar menghadapi derita, alih-alih menghindarinya. Siapa pun yang menghindari penderitaan tidak layak menjadi murid Yesus. Yesus sendiri telah menegaskan bahwa siapa pun yang mau mengikuti-Nya harus berani memikul salib.

Saudara-saudari terkasih, kita hidup di zaman yang menawarkan banyak kemudahan. Kita bisa memperoleh banyak hal hanya dengan sekali klik. Namun, sebenarnya teknologi secanggih apa pun tidak dapat menghapus derita dari hidup kita. Pada dasarnya, dunia ini terbatas dan rapuh, di mana derita menjadi bagian integral di dalamnya. Pilihan-pilihan kita bisa mendatangkan derita. Derita bisa mendera kita, sekalipun kita tidak menghendakinya. Karena itu, kita perlu belajar bersahabat dengan penderitaan. Kalau kita menderita, kita perlu menerima dan memikulnya. St. Yohanes Maria Vianney berkata, “Kamu harus menerima salibmu; jika kamu memikulnya dengan penuh semangat, salib itu membawamu ke surga.” Selamat beraktivitas. Tuhan memberkati kita!