Iman: Mengandalkan Tuhan, Bukan Mengandalkan Kekuatan Sendiri

Minggu, 2 Oktober 2022 – Hari Minggu Biasa XXVII

110

Lukas 17:5-10

Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: “Tambahkanlah iman kami!” Jawab Tuhan: “Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.”

“Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

***

Seorang pendamping rohani pernah berkata demikian, “Berjuang dan berusahalah dengan sekuat tenaga, seolah-olah semuanya hanya tergantung pada dirimu untuk mendapatkannya; tetapi berdoalah dengan tekun dan sungguh-sungguh, sebab semuanya tergantung pada Tuhan untuk memperolehnya.” Kata-kata motivasi tersebut dimaksudkan untuk mengajak orang agar mampu memadukan antara doa dan usaha. Berdoa tanpa berusaha membuat orang jatuh pada iman yang naif; sedangkan jika hanya melulu mengandalkan usaha dan perjuangan manusia tanpa campur tangan Tuhan, kita akan menjadi pribadi yang sombong.

Nabi Habakuk dalam bacaan pertama hari ini (Hab. 1:2-3; 2:2-4) menegaskan, “Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya” (Hab. 2:4). Habakuk adalah seorang nabi yang mengalami masa-masa yang sulit dan berat dalam pelayanannya karena hidup pada zaman pemerintahan Raja Yoyakim yang jahat di mata Tuhan. Pada masa itu juga, bangsa Yehuda harus menghadapi serangan dari bangsa Babel.

Dalam pergumulan imannya, Nabi Habakuk sempat melontarkan protes kepada Tuhan, “Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: ‘Penindasan!’ tetapi tidak Kautolong?” (Hab. 1:2). Namun, pada akhirnya, sang nabi mengalami transformasi, yakni perubahan cara pandang dari manusiawi ke rohani. Dengan berani dan tegas, ia pun menyatakan imannya. Sekalipun keadaan begitu sulit, mengecewakan, hancur, dan tidak berpengharapan, ia tetap mengandalkan Tuhan dan bersukacita dalam Dia. Iman memampukan Nabi Habakuk untuk memandang hidupnya bukan dengan cara pandang manusiawi-duniawi, melainkan cara pandang ilahi-rohani. Inilah yang menguatkan dan memampukan Nabi Habakuk untuk tetap kuat dan tangguh dalam situasi yang sulit.

Saudara-saudari yang terkasih, dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menguatkan dan meneguhkan para rasul yang sedang down alias lemah dalam iman. “Tambahkanlah iman kami!” kata para rasul. Yesus menjawab, “Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.”

Biji sesawi adalah biji yang sangat kecil. Meskipun demikian, ketika seseorang mempunyai iman, bahkan kalau iman itu hanya sebesar biji sesawi, ia akan bisa melakukan hal-hal yang rasanya tidak mungkin. Segala sesuatu yang tidak mungkin bagi manusia adalah mungkin bagi Allah. Keyakinan pada Allah dan hidup yang bergantung pada Allah akan membuat seseorang bersikap tidak sombong. Ia akan hidup dalam kerendahan hati. Kerendahan hati memungkinkan benih-benih kebaikan tumbuh dan berkembang dalam diri seseorang. Kerendahan hati memampukan orang untuk bergantung pada Tuhan dan percaya pada campur tangan-Nya dalam usaha dan perjuangan hidup manusia.