Saat Menangis, Saat Peka dan Sadar

Kamis, 17 November 2022 – Peringatan Wajib Santa Elisabet dari Hungaria

52

Lukas 19:41-44

Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya, kata-Nya: “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau.”

***

Apakah hidup kita baik-baik saja? Banyak di antara kita yang merasa hidupnya baik-baik saja. Segala yang diberikan Tuhan, seperti keluarga, pekerjaan, harta benda, membuat kita merasa yakin bahwa hidup kita memang ada di jalan yang baik. Kita merasa nyaman dengan kehidupan ini. Namun, Yesus hari ini justru menangisi Yerusalem yang tenggelam dalam kenyamanan.

Kita boleh yakin bahwa Tuhan menganugerahkan hal-hal yang baik dalam hidup manusia. Meskipun demikian, adalah suatu perangkap bahwa kita tinggal dalam kenyamanan dan tidak berani kritis terhadap hidup kita. Peristiwa inkarnasi, yang mana Allah Putra turun ke dunia sebagai manusia, menunjukkan bagaimana Allah Tritunggal tidak pernah merasa nyaman dengan apa yang dimiliki-Nya. Allah Tritunggal bergerak aktif menanggapi kegelisahan yang ada di dalam hidup manusia.

Kita bisa tinggal dalam tembok-tembok kenyamanan yang sudah kita bangun, serta menutup rapat-rapat telinga dan mata kita. Namun, akan lebih baik jika kita memiliki kepekaan dan kegelisahan yang sehat karena kita ingin berjalan bersama Tuhan untuk membawa dunia ini menjadi semakin baik.

Apa pilihan kita?