Akhir yang Bahagia

Kamis, 24 November 2022 – Peringatan Wajib Santo Andreas Dung Lac dan Kawan-kawan

63

Lukas 21:20-28

“Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah, bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan di mana akan genap semua yang ada tertulis. Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau yang menyusukan bayi pada masa itu! Sebab akan datang kesesakan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini, dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu.”

“Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan guncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.”

***

Pandemi Covid-19 dan efek-efeknya belum berakhir. Wabah global ini telah menyerang dan meluluhlantakkan banyak aspek kehidupan manusia, baik dalam ranah pribadi maupun komunitas, baik di lingkungan masyarakat lokal maupun global. Pandemi yang berkepanjangan menimbulkan stres, frustrasi, kecemasan, depresi, dan kematian. Tidak sedikit korban meninggal dunia karena wabah yang dashyat ini. Ada yang putus asa, ada yang berjuang demi keselamatan diri, tetapi ada pula yang makin teguh dan berkembang dalam iman dan kasih kepada sesama.

Banyak orang tetap setia menjaga imannya. Dalam situasi pandemi yang serba tidak menentu, mereka mempererat relasi dengan Tuhan, serta memperkuat amal kasih kepada sesama yang sedang menderita. Hal ini menunjukkan bahwa bencana tidak selalu membawa dampak buruk. Orang yang tetap teguh dalam iman akan selalu menemukan berkat di balik setiap situasi buruk. Mereka telah menjadi pemenang yang sejati.

Yesus dalam bacaan Injil hari ini berbicara tentang sesuatu yang kesannya negatif, yaitu kehancuran Yerusalem dan bencana-bencana dahsyat yang akan melanda bangsa-bangsa di bumi. Kekacauan akan melanda kota sekuat Yerusalem. Yerusalem yang kokoh dan indah itu akan runtuh, sementara orang-orang akan dilanda ketakutan dan kematian. Bencana-bencana yang menakutkan akan melanda bumi, membuat bangsa-bangsa mati ketakutan, cemas, dan bingung. Orang-orang akan kehilangan arah dan pegangan.

Namun, tidaklah demikian bagi mereka yang beriman kepada Tuhan. Yesus memberi jaminan bahwa orang beriman akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Alih-alih binasa oleh kecemasan, mereka teguh berdiri dalam iman karena yakin bahwa Tuhan tidak buta terhadap kesengsaraan umat-Nya. Para pengikut Tuhan yang setia selalu optimis bahwa Tuhan yang mereka imani tidak akan meninggalkan mereka. Dia akan datang dengan penuh kuasa untuk menyelamatkan orang yang tekun berharap dan percaya kepada-Nya.

Hidup manusia tidak hanya berisi berita gembira. Terkadang cobaan datang dan mengguncang iman orang yang percaya. Sakit, kegagalan, penderitaan, pengkhianatan, ketidakadilan, kemiskinan, bencana alam, dan kematian orang tercinta juga mewarnai kehidupan mereka. Yesus menghibur kita bahwa Dia tidak hanya hadir dalam kisah-kisah sukacita, tetapi juga hadir secara lebih nyata dalam masa-masa sulit. Yang dibutuhkan dari kita adalah ketekunan dalam memelihara iman. Orang yang beriman tetap optimis bahwa berkat akan selalu ada di balik setiap peristiwa duka.

Kesulitan hidup justru memperkuat iman para pengikut Tuhan yang setia. Jangan biarkan hidup kita dikuasai oleh ketakutan dan kecemasan yang sering mematikan. Ketakutan yang berlebihan adalah tanda ketiadaan iman dan kasih. Ketiadaan iman, harapan, dan cinta kasih itulah kiamat terbesar manusia. Akhir hidup orang yang punya iman, harapan, dan kasih selalu indah dan membahagiakan. Percayalah!