Percaya karena Iman

Sabtu, 10 Desember 2022 – Hari Biasa Pekan II Adven

86

Matius 17:10-13

Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus: “Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.” Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis.

***

Sering kali kita percaya pada suatu hal jika sudah membuktikannya dengan indra kita. Mendengar, melihat, mencium, mencecap, dan merasa menjadi cara kita untuk sampai pada pengalaman percaya terhadap sesuatu. Namun, apakah hal itu sungguh dibutuhkan jika diterapkan pada iman akan Tuhan?

Percaya dalam iman semestinya selalu mengalami perkembangan dan bersifat dinamis. Setiap saat Tuhan selalu memperbarui iman kita agar semakin mengalami kesempurnaan. Tentu saja syaratnya adalah kepekaan hati. Sayangnya, banyak orang tidak memiliki kemampuan itu karena sering tertutupi oleh ambisi pribadi, kecenderungan pada kejahatan, maupun kemandekan rohani. Akibatnya, yang justru semakin banyak adalah tuntutan kepada Tuhan, alih-alih rasa syukur atas berkat-Nya. Di situlah akhirnya orang tidak memahami rencana Tuhan yang selalu memberi kebaikan pada hidup setiap pribadi.

Sebagaimana digambarkan dalam bacaan Injil hari ini, para murid tidak bisa memahami apa yang diwartakan Yesus karena mereka jatuh pada pikiran sendiri. Mereka sibuk pada tafsiran pribadi dan kurang terbuka untuk peka pada suara Tuhan. Kelompok yang demikian akhirnya akan terjebak pada kekosongan iman. Mereka rutin berdoa, tetapi jiwanya kosong. Mereka rajin berdevosi, tetapi emosinya masih dikuasai kejahatan. Mereka selalu mengikuti perayaan Ekaristi, tetapi nuraninya tumpul untuk berbagi berkat dengan sesama.

Menanggapi hal itu, penting sekali bagi kita untuk memiliki kepekaan hati. Ini bisa kita olah dalam latihan rohani pribadi, misalnya dengan mengusahakan untuk berkomunikasi dengan Tuhan dalam hidup doa atau rajin melakukan pemeriksaan batin sebagai cara mensyukuri berkat dari-Nya. Masa Adven merupakan kesempatan penuh rahmat untuk memurnikan iman kita. Kita hendak jujur di hadapan Tuhan mengenai segala bentuk keterlibatan kita dalam karya keselamatan-Nya. Harapannya, segala pelayanan dan pemberian diri kepada Tuhan tidak berhenti pada diri kita saja, tetapi sudah menjadi cara hidup yang menyelamatkan sesama. Kepekaan hati akan terasah jika kita mempunyai keheningan batin yang rutin dikembangkan setiap hari di tengah-tengah kesibukan berkarya. Semoga kita mampu merasakan kehadiran Tuhan yang mengubah hidup kita setiap waktu, sehingga apa pun yang kita lakukan pada akhirnya berbuah bagi diri kita sendiri, sesama, dan Gereja. Tuhan memberkati.