Aturan yang Memerdekakan

Selasa, 17 Januari 2023 – Peringatan Wajib Santo Antonius

47

Markus 2:23-28

Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Jawab-Nya kepada mereka: “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu — yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam — dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.”

***

Dalam kehidupan bermasyarakat, keberadaan aturan itu penting. Akan tetapi, harus diakui bahwa aturan ada yang baik, ada yang buruk; ada yang bijaksana, tetapi ada pula yang tidak masuk akal, bahkan cenderung tidak adil. Aturan yang buruk dan tidak adil jelas harus diperbarui demi terwujudnya kesejahteraan bersama. Sementara itu, dalam aturan yang baik pun kadang-kadang perlu dibuat kekecualian, sebab pada dasarnya, suatu aturan pasti tidak bisa mengantisipasi seluruh situasi konkret yang mungkin terjadi. Aturan yang diterapkan secara kaku bisa jadi akan mengorbankan kebaikan hidup seseorang.

Dalam bacaan Injil hari ini, orang Farisi menuduh murid-murid Yesus melanggar hukum Sabat karena mereka memetik bulir-bulir gandum pada hari Sabat. Hari Sabat adalah hari yang dikuduskan untuk mengingat dan merayakan karya penciptaan yang dilakukan Tuhan. Karena itu, hukum Taurat melarang dilakukannya semua pekerjaan pada hari itu. Para murid Yesus dikritik bukan karena memetik bulir gandum di ladang, melainkan karena melakukan hal itu pada hari Sabat.

Dalam tanggapan-Nya, Yesus mengundang para pengkritik untuk merenungkan dan melihat lebih sungguh mengenai hubungan manusia dengan Allah. Ia menegaskan bahwa kebutuhan manusia harus didahulukan daripada kebiasaan ritual, sebab setiap aturan dibuat demi kebaikan hidup manusia: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat.” Dengan ini, Yesus menantang kita untuk membangun dan memelihara struktur kehidupan sosial yang memajukan martabat manusia, serta untuk meruntuhkan setiap struktur sosial yang justru membahayakan kehidupan manusia. Aturan yang tidak mendukung kebaikan dan kebahagiaan hidup manusia bertentangan dengan kehendak Allah.

Hal yang sama dapat diterapkan dalam kehidupan beragama yang benar. Jika agama menghalangi seseorang untuk menolong orang lain yang membutuhkan, agama itu adalah palsu belaka. Jika iman seseorang lebih berpusat pada ritual dan hal-hal yang bersifat eksternal serta melupakan martabat manusia, iman tersebut adalah sebuah kebohongan besar. Allah tidak pernah berkehendak menindas umat-Nya atau membatasi hubungan setiap manusia dengan sesamanya. Inti dari keutamaan moral kristiani menekankan pentingnya menolong orang lain dan kepekaan terhadap kebutuhan orang lain, terutama mereka yang hidupnya kurang beruntung. Semoga pertimbangan-pertimbangan ini membantu kita, bukan karena ini adalah aturan yang wajib dijalankan, melainkan karena kita mau menghayati semua pekerjaan kita dengan kasih yang telah Tuhan taruh di dalam hati kita, agar kita juga dapat mengasihi Dia dengan tulus.