Panggilan Kemuridan

Jumat, 20 Januari 2023 – Hari Biasa Pekan II

51

Markus 3:13-19

Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan. Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia.

***

Menurut catatan keempat Injil, ada tiga kelompok yang selalu mengikuti Yesus. Kelompok pertama tampaknya tidak terorganisasi dan tidak stabil, yakni orang banyak yang selalu berkerumun di sekeliling Yesus untuk mendengarkan Dia dan mendapatkan manfaat dari kekuatan mukjizat-Nya. Kelompok kedua sedikit lebih terikat pada Yesus, mengikuti-Nya dalam jangka waktu tertentu, serta mendukung Dia dan kedua belas rasul dalam memujudkan misi kasih-Nya. Kelompok terakhir adalah yang paling dekat dengan Yesus, yakni kedua belas rasul. Mereka ditunjuk oleh Yesus sendiri untuk selalu menyertai Dia, dan kelak akan diutus-Nya untuk melanjutkan misi-Nya di tengah dunia.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan kepada kita tentang panggilan kedua belas rasul. Panggilan utama mereka adalah untuk menemani Yesus ke mana pun Dia pergi, dan dengan demikian berbagi seluruh hidup mereka dengan-Nya. Kedua belas rasul ini dibedakan dari murid-murid yang lain dan dari kerumunan orang banyak oleh keintiman hidup mereka dengan Yesus dan oleh misi yang mereka terima.

Ada tiga hal penting dari kisah panggilan kedua belas rasul ini yang bisa kita renungkan lebih jauh berkaitan dengan panggilan kemuridan kristiani kita. Pertama, sebelum memanggil kedua belas rasul tersebut, Yesus dikisahkan naik ke atas bukit. Bukit, gunung, atau tempat yang tinggi merupakan tempat doa yang khusyuk dan disukai Yesus, juga Musa dan para nabi dalam Perjanjian Lama. Bagi Yesus, mengetahui kehendak Bapa sangat penting dalam memutuskan siapa yang akan mengikuti dan membantu-Nya untuk mewujudkan belas kasihan Allah di tengah dunia. Ia memilih orang-orang hanya yang dikehendaki oleh Bapa. Yesus dengan ini memberi kita teladan tentang apa yang harus dilakukan, khususnya ketika kita harus mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu.

Kedua, orang-orang yang dipanggil Yesus untuk ikut ambil bagian dalam pelayanan kasih-Nya berasal dari latar belakang dan status sosial yang berbeda-beda. Mereka adalah orang-orang biasa, dari kelompok masyarakat sederhana, beberapa bahkan tampaknya tidak memenuhi syarat untuk menjadi murid-Nya. Ada nelayan, ada yang sebelumnya merupakan pemungut cukai yang korup, ada pula yang berwatak keras dan sering naik pitam. Terlepas dari semuanya itu, mereka dipanggil ke dalam persekutuan komunitas kasih untuk membawa kabar sukacita ilahi kepada semua orang. Yesus memanggil para rasul bukan hanya untuk mengikuti-Nya, melainkan juga untuk berbagi pekerjaan dengan-Nya dalam hal mengajar, memimpin, dan menguduskan.

Ketiga, Yesus memanggil kedua belas orang itu dengan nama mereka masing-masing. Selain itu, Ia memberi mereka identitas baru. Kepada masing-masing rasul diberi-Nya misi dan tanggung jawab yang mesti diemban dalam menghadirkan kasih dan Kerajaan Allah di dunia. Yesus memberi mereka nama baru sebagai cara untuk menunjukkan bahwa mereka tidak lagi sama, bahwa telah terjadi transformasi dalam diri mereka.

Kisah panggilan para rasul ini menunjukkan kepada kita bagaimana tindakan dan rencana hidup kita perlu didoakan dan perlu ditinjau kembali dalam terang keintiman dengan Tuhan. Kisah panggilan ini dapat menjadi model panggilan kristiani kita. Kita semua dipanggil dan diutus oleh Tuhan melalui tugas dan tanggung jawab kita masing-masing di tengah masyarakat untuk menghadirkan kasih-Nya kepada manusia. Kita diutus untuk membawa kabar sukacita, bukan kabar bohong dan berita kebencian. Kita dipanggil untuk menyembuhkan yang patah hati melalui tutur kata dan tindakan kasih yang nyata, bukan membuat sesama semakin terluka.

Namun, kita juga perlu terus-menerus memperdalam motivasi kita mengikuti Yesus agar dapat bertumbuh dalam pengenalan akan pribadi-Nya. Hal itu akan terwujud dengan baik jika kita tidak lupa untuk sesekali “naik gunung”. Gunung yang dimaksud adalah ruang permenungan diri yang tenang, kesempatan doa harian kita, atau tempat yang hening yang memungkinkan kita bertemu dan bertukar cerita dengan Tuhan.