Tantangan terhadap Pewartaan Injil

Senin, 23 Januari 2023 – Hari Biasa Pekan III

56

Markus 3:22-30

Dan ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata: “Ia kerasukan Beelzebul,” dan: “Dengan penghulu setan Ia mengusir setan.” Yesus memanggil mereka, lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan: “Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis? Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan, dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan. Demikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya. Tetapi tidak seorang pun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, ya, semua hujat yang mereka ucapkan. Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal.” Ia berkata demikian karena mereka katakan bahwa Ia kerasukan roh jahat.

***

Mukjizat Yesus selalu ditanggapi secara beragam. Ada yang kagum, ada yang sinis, ada juga yang membuat teori konspirasi. Para ahli Taurat menuduh Yesus mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, sang penghulu setan, yang merasuki-Nya. Dengan dua ilustrasi, Yesus mematahkan tuduhan mereka.

Pertama, tidak mungkin warga kerajaan atau anggota keluarga setan saling berperang. Itu akan menghancurkan mereka sendiri. Kedua, hanya Yesus, sebagai yang lebih kuat, yang mampu mengalahkan setan yang sudah menguasai manusia. Kuasa penyembuhan dan pengusiran setan yang dilakukan Yesus berasal dari Roh Allah yang menyertai-Nya sejak pembaptisan. Dalam karya Yesus, pemerintahan Allah mulai ditegakkan.

Karena itu, kekuatan oposisi pun harus menyerah. Pimpinan setan (Beelzebul) dan anak buahnya (roh-roh jahat) harus disingkirkan. Selama ini mereka menjadikan dunia sebagai rumah dan kerajaannya. Manusia mereka tawan dan mereka jadikan harta benda. Yesus datang untuk mengikat setan dan merampas kembali manusia. Dengan kedatangan Yesus, manusia dikembalikan menjadi aset Allah. Itulah juga inti panggilan Gereja, yakni menjadikan dan mengembalikan manusia kepada martabatnya sebagai harta berharga Allah!

Pengalaman Yesus menjadi cerminan pengalaman kita, para pengikut-Nya. Kita juga pasti akan ditolak. Karya misi dan pewartaan kita pun pasti akan menghadapi pelbagai rasa curiga, tuduhan, dan teori konspirasi. Kaum keluarga Yesus sendiri pun menganggap-Nya tidak waras lagi. Tantangan dan perlawanan terhadap pewartaan Injil bukan saja berasal dari kekuatan setan, melainkan juga dari orang-orang terdekat. Misi dan pelayanan kita sering membuat risi, juga bagi kaum kerabat dan famili. Kerabat sering juga menjadi halangan. Mereka juga sering belum paham. Kalau itu terjadi, ingatlah bahwa itu bukan gejala masa kini. Itu juga menjadi pengalaman Yesus sendiri.

Roh Kudus yang berkarya dalam diri Yesus juga berkarya dalam diri kita. Dengan itu, kita dimampukan untuk menghadirkan Allah di tengah dunia dan mengusir setan dalam pelbagai bentuknya. Akan tiba saatnya “segala ujung bumi telah melihat keselamatan, yang datang dari Allah kita. Bersorak-sorailah bagi Tuhan, hai seluruh bumi” (Mzm. 98:3-4).