Menjadi Pribadi yang Peka akan Tanda dari Tuhan

Rabu, 1 Maret 2023 – Hari Biasa Pekan I Prapaskah

105

Lukas 11:29-32

Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus: “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!”

***

Sejak kecil, umumnya anak sudah dibiasakan untuk menangkap dan memahami arti dari tanda atau simbol. Ketika orang tua meletakkan jari telunjuk di depan mulut, itu tandanya anak harus diam alias jangan berisik. Ketika orang tua menyatukan ujung jari telunjuk dan ujung ibu jari, lalu siap menyentil kuping si anak, itu tandanya ia diperingatkan untuk tidak nakal lagi. Alam pun mengisyaratkan aneka macam tanda. Ketika langit mulai mendung, itu pertanda bahwa hujan akan segera turun. Ketika hewan-hewan gunung turun ke rumah-rumah penduduk, itu pertanda bahwa puncak gunung berapi sudah memanas dan akan segera meletus. Namun, tidak semua orang punya kepekaan. Banyak orang bersikap masa bodoh dalam menangkap makna dan arti dari tanda-tanda yang ada di sekitarnya.

Ketidakpekaan ditunjukkan oleh sejumlah orang Farisi dan ahli Taurat pada zaman Yesus. Mereka menuntut tanda dari Yesus, padahal tanda yang dimaksud sudah ada di hadapan mereka. Karena kebebalan hati, mereka tidak mampu menangkap dan memahami arti kehadiran Yesus di tengah-tengah mereka.

Berhadapan dengan ketidakpekaan orang-orang itu, Yesus geregetan. Ia berkata, “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus.” Dengan dua contoh, Yesus menegaskan bahwa tanda yang hadir di tengah-tengah mereka waktu itu jauh lebih kentara daripada tanda-tanda yang ada sebelumnya, yakni dengan mengatakan bahwa “yang ada di sini lebih daripada Salomo” dan “yang ada di sini lebih daripada Yunus”. Ini berarti ketidakpekaan orang-orang itu sungguh sangat parah.

Saudara-saudari terkasih, kepekaan untuk menangkap dan memahami makna di balik tanda bukanlah sesuatu yang sekali jadi, melainkan suatu proses terus-menerus yang membutuhkan latihan. Sekali lagi, kepekaan adalah sebuah proses yang membutuhkan latihan. Caranya adalah dengan membiasakan diri untuk melihat segala sesuatu di sekitar kita bukan hanya dengan mata fisik, melainkan juga dengan mata hati dan batin kita. Dengan itu, kita akan mampu menembus makna yang terdalam dari apa yang kita lihat: Apa makna peristiwa ini? Tuhan dengan ini hendak berbicara apa? Apa yang menjadi kehendak dan rencana Tuhan di balik peristiwa-peristiwa dalam kehidupan kita? Mari kita belajar menjadi orang yang peka akan tanda-tanda dari surga dalam setiap peristiwa konkret yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.