Hidup Keagamaan yang Humanis

Jumat, 3 Maret 2023 – Hari Biasa Pekan I Prapaskah

82

Matius 5:20-26

“Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar utangmu sampai lunas.”

***

Dengan mudah, orang sering kali mengeklaim bahwa agamanyalah yang paling hebat, bahwa ritual agamanya saja yang benar dan yang diterima oleh Tuhan. Orang dengan mudah menarik jarak yang jauh antara ritual keagamaan dan kehidupan sehari-hari. Keagamaan hanya berhenti pada ritual peribadatan, tidak sampai menyentuh dan berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari bersama dengan orang-orang lain. Hubungan dengan Tuhan dipersempit dalam kotak ritual keagamaan, tidak menjangkau pengalaman hidup sehari-hari dalam relasi dengan sesama. 

Dengan keras, Yesus hari ini mengkritik praktik hidup beragama seperti itu. Ia menegaskan kepada kita bahwa persembahan dan kesalehan yang kita jalankan akan percuma kalau kita masih menyimpan benci, dendam, dan amarah terhadap saudara-saudari kita. Doa dan ibadat kita juga tidak ada artinya kalau kita belum mampu berdamai dengan saudara-saudari kita.

Hubungan kita dengan Tuhan harus memampukan kita untuk membangun hubungan yang baik dengan saudara-saudari yang ada di sekitar kita. Dimensi vertikal (relasi dengan Allah) dan dimensi horizontal (relasi dengan sesama) adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam hidup keagamaan kita. Agama seharusnya tidak hanya mengantar orang sampai kepada Tuhan, tetapi juga semakin mendekatkan orang itu pada sesamanya.

Saudara-saudari yang terkasih, bukan hanya orang lain, kita pun kadang jatuh dalam praktik beragama yang ritualis dan kurang humanis. Kerap kali kita mudah menghakimi serta menyalahkan orang lain. Kita merasa diri paling hebat, paling suci, dan paling benar; pihak lain kita pandang sebagai yang keliru dan tak terselamatkan. Pada Masa Prapaskah ini, mari kita melakukan introspeksi diri. Semoga hidup keagamaan kita semakin humanis. Semoga doa dan peribadatan kita semakin mendekatkan kita kepada Tuhan, dan pada saat yang sama semakin menggerakkan kita untuk mencintai sesama kita sebagai saudara.