Hukum yang Paling Utama

Jumat, 17 Maret 2023 – Hari Biasa Pekan III Prapaskah

92

Markus 12:28b-34

Lalu seorang ahli Taurat datang kepada-Nya dan bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?” Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini.” Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama daripada semua korban bakaran dan korban sembelihan.” Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Dan seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.

***

Berbeda dari yang lain, ahli Taurat satu ini tidak bermaksud menjebak Yesus. Ia mempertanyakan suatu hal kepada-Nya dalam rangka berdiskusi. Pertanyaannya tentang perintah yang paling utama merupakan hal yang sering diperbincangkan orang Yahudi. Tidak heran jika ia ingin mengetahui pendapat Yesus tentang hal itu.

Menegaskan apa yang tercantum dalam Taurat, Yesus menyatakan bahwa perintah paling utama adalah kasih yang utuh terhadap Allah dan kasih yang utuh terhadap sesama. Dalam hal ini tidak ada perintah nomor satu atau nomor dua. Kedua perintah itu sama penting dan merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Jawaban Yesus membuat ahli Taurat itu terkesan. Ia sangat setuju dengan-Nya sambil menambahkan bahwa kasih terhadap Allah dan sesama jauh lebih utama daripada kurban bakaran dan kurban-kurban lainnya.

Rumah-rumah ibadah yang penuh sesak pada waktu-waktu tertentu ternyata tidak menjamin terciptanya kondisi masyarakat yang lebih baik. Saat berdoa dan beribadat, orang memang bersikap khusyuk. Namun, apa yang terjadi sesudah itu? Ibadat selesai, kesalehan juga selesai. Keluar dari rumah Tuhan, orang kembali bertingkah laku seperti semula: Berlaku tidak adil, membenci, menindas, dan memperdaya orang lain. Inilah orang-orang yang mengasihi Tuhan, tetapi tidak mengasihi sesama.

Perintah agung yang disampaikan Yesus hari ini harus selalu kita ingat. Kasih terhadap Tuhan dan kasih terhadap sesama bukanlah dua hal yang terpisah. Dengan mengasihi Allah, kita mengasihi sesama. Dengan mengasihi sesama, kita mengasihi Allah. Melaksanakannya secara serentak akan menciptakan keseimbangan hidup. Kasih terhadap sesama mengkonkretkan kasih kita terhadap Allah, sedangkan kasih terhadap Allah secara kokoh mendasari kasih kita kepada sesama.