Keteguhan Hati Maria

Sabtu, 17 Juni 2023 – Peringatan Wajib Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria

48

Lukas 2:41-51

Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu. Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya. Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka. Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia. Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya. Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.” Jawab-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka. Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.

***

Segera setelah Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus, kita merayakan peringatan Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria. Dalam merenungkan peringatan ini, saya teringat akan salah satu pernyataan Yesus dalam Injil Matius, “Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat. 6:21). Harta Maria adalah Allah, dan kepada Allah saja, niat hatinya selalu tertuju. Saya yakin bahwa Maria tidak memiliki harta dan cinta yang lain di dalam hatinya, selain Allah semata. Karena kekuatan kasih Allah, Maria dengan rendah hati menjawab rencana ilahi untuk menjadi bunda Putra-Nya dan untuk mengasihi Allah setiap hari dalam hidupnya. Hati Maria adalah hati yang merenung dan menembus keheningan untuk tetap berada di hadirat Allah.

Bacaan Injil hari ini berkisah tentang hilang dan ditemukannya Yesus di Bait Allah ketika Ia berumur dua belas tahun. Saat ditemukan di Bait Allah, Yesus tampak sedang mendengarkan dan bertukar pikiran dengan para pemuka agama Yahudi. Ini menunjukkan kedalaman pengetahuan, pemahaman, dan kebijaksanaan-Nya, bahkan di usia-Nya yang masih sangat muda.

Selanjutnya, perhatian kita diarahkan pada percakapan antara Maria dan Yesus. Maria mengatakan kepada Yesus bahwa ia dan bapa Yesus, yakni Yusuf, kebingungan mencari Dia. Yesus lalu menjawab, “Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku,” yang merujuk pada Allah Bapa. Sesudah itu disampaikan bahwa Maria “menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya”. Dengan ini dinyatakan bahwa hati Maria adalah tempat terbaik untuk mengingat kasih ilahi, sekaligus tempat pewahyuan kasih itu kepada dunia.

Hati Maria dikatakan tak bernoda karena murni dan tulus. Ia senantiasa berada di hadirat Allah dan mengikuti kehendak-Nya. Hati yang ingin mengalami kebijaksanaan ilahi adalah hati yang selalu mencari perlindungan di dalam hadirat Tuhan. Perlindungan tersebut diperlukan untuk menenangkan kegelisahan, sesuatu yang membuat kita menjadi sosok yang agresif, kasar, dan kejam. Kegelisahan mengubah suasana hati kita, mengubah cara kita berhubungan satu sama lain. Dalam hal ini, Maria adalah teladan kita untuk selalu mencari perlindungan di dalam kekuatan ilahi.

Kebijaksanaan ilahi menuntun kita untuk tetap teguh di hadapan tantangan dan godaan dunia. Semoga hati kita seperti hati Maria, penuh dengan kasih kepada Allah dan sesama, tidak takut untuk menderita bagi kebenaran kasih Tuhan. Pada peringatan Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria ini, marilah kita memohon kepada Tuhan anugerah kemurnian hati, agar kita dapat menemukan kehadiran-Nya dalam setiap peristiwa kehidupan dan dalam diri sesama di sekitar kita.