Ditolak di Nazaret

Jumat, 4 Agustus 2023 – Peringatan Wajib Santo Yohanes Maria Vianney

133

Matius 13:54-58

Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mukjizat-mukjizat itu? Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.” Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mukjizat diadakan-Nya di situ.

***

Di tempat asal-Nya, yakni di Nazaret, Yesus mengajar orang banyak di sinagoga. Tidak ada rincian ajaran apa yang diberikan oleh-Nya. Matius hanya menekankan ketakjuban para pendengar atas hikmat-Nya dalam mengajar dan kuasa-Nya dalam mukjizat-mukjizat penyembuhan yang dilakukan-Nya. Jadi, para pendengar terkesan oleh dua hal, yakni hikmat-Nya dan mukjizat yang dilakukan-Nya.

Orang-orang terkagum-kagum oleh hikmat yang ditunjukkan Yesus dalam mengajar dan oleh kuasa-Nya dalam membuat mukjizat. Mereka dua kali menanyakan sumber hikmat dan kuasa itu: “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mukjizat-mukjizat itu?”; juga, “Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?” Pertanyaan tersebut mendorong kita untuk memberikan jawaban bahwa hikmat dan kuasa Yesus berasal dari Allah. Hikmat dan kuasa itu juga menunjukkan hubungan khusus Yesus dengan Allah.

Kedua pertanyaan tersebut menyiratkan reaksi skeptis orang-orang Nazaret terhadap Yesus karena mereka mengenal latar belakang keluarga-Nya sebagai orang biasa seperti mereka. Bagi mereka, Yesus hanyalah anak tukang kayu, yang anggota keluarga-Nya dapat mereka sebutkan satu per satu. Prasangka ini membuat mereka tidak sampai pada pengakuan iman akan Yesus sebagai Mesias, Anak Allah. Karena itu, mereka tidak banyak mengalami kuasa mukjizat penyembuhan-Nya, sebab ada hubungan yang erat antara iman dan mukjizat.

Dari awalnya kagum, orang-orang lalu berubah menjadi kecewa dan menolak Yesus. Dalam konteks inilah Yesus mengungkapkan sebuah peribahasa, “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.” Peribahasa ini mungkin telah beredar luas pada zaman Yesus karena muncul dalam keempat Injil. Penolakan dan ketidakpercayaan mereka membuat Yesus membatasi pelayanan-Nya di Nazaret, sehingga tidak banyak mukjizat yang diadakan-Nya di situ.

Apa pesan yang bisa kita petik dari bacaan Injil hari ini? Yesus mencintai kampung halaman-Nya bersama dengan orang-orang yang ada di dalamnya. Namun, mereka mempersoalkan asal-usul hikmat-Nya dalam mengajar dan kuasa-Nya dalam mengadakan mukjizat. Mereka tampaknya menginginkan Yesus tetap sama seperti ketika tinggal bersama mereka. Alih-alih bangga dengan hikmat dan kuasa mukjizat-Nya, mereka malah kecewa dan menolak-Nya karena mungkin cemburu dan iri hati. Semoga kita terbuka untuk menerima bahwa Tuhan dapat bekerja secara luar biasa melalui orang-orang yang kita anggap biasa dan sederhana.