Panggilan Kekudusan

Jumat, 1 September 2023 – Hari Biasa Pekan XXI

121

Matius 25:1-13

“Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu. Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.”

***

Setiap orang pasti mengerti hal yang baik. Banyak di antara kita ingin melakukan hal yang baik, akan tetapi tidak sedikit yang hanya mampu berjalan separuh langkah. Dalam bacaan pertama (1Tes. 4:1-8), Rasul Paulus mengingatkan tentang panggilan hidup Kristen, “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.”

Panggilan kekudusan bisa dirunut dari panggilan Abraham. Allah yang memanggil Abraham bersabda, “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela” (Kej. 17:1). Ayat ini sangat terkenal mengenai Allah yang Mahakuasa atau El Shaddai. Oleh perkenanan Allah yang Mahakuasa, Abraham yang telah berusia lanjut dapat memiliki keturunan sebanyak butir-butir pasir di laut. Allah menjadikan semua yang tidak mungkin menjadi nyata. Akan tetapi, dari pihak manusia perlu tanggapan yang layak, yakni dengan membangun sikap iman. Rasul Paulus menasihatkan, “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” (Rm. 12:12).

Dalam bacaan Injil, Yesus mengajak kita untuk tidak hanya memiliki niat baik menyambut kehadiran mempelai dengan membawa pelita. Lebih dari itu, kita juga dituntut untuk memiliki sikap sabar dan bertekun dalam penantian. Sikap-sikap tersebut menentukan rahmat Tuhan yang akan kita diterima. Sama seperti Abraham yang bertekun dalam iman, juga umat di Tesalonika yang dipuji oleh Paulus, Yesus menegaskan perlunya kita membangun etos hidup rohani dengan bertekun.

Mari berefleksi: Apa usaha kita dalam menjaga kekudusan hidup kita?