Perbuatan Lebih Baik daripada Perkataan

Minggu, 1 Oktober 2023 – Hari Minggu Biasa XXVI

165

Matius 21:28-32

“Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka: “Yang terakhir.” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.”

***

Tahun 2024 yang adalah tahun politik sudah di depan mata. Kepada kita sekarang sudah mulai disuguhkan kampanye yang menjanjikan program-program hebat dari mereka yang ingin dipilih oleh masyarakat. Mereka memberikan janji-janji manis, tetapi berdasarkan pengalaman, setelah terpilih mereka sering kali lupa dan tidak menepati janji itu. Inilah yang membuat kepercayaan masyarakat luntur kepada orang-orang yang disebut sebagai wakil rakyat itu. Bagaimana mungkin mereka bisa dipercaya menyampaikan aspirasi rakyat jika janji yang mereka ungkapkan sendiri pun tidak ditepati?

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengemukakan perumpamaan yang memunculkan dua sosok kakak beradik yang sangat berbeda dalam menanggapi perintah ayahnya. Sang kakak memiliki karakter yang kurang lebih mirip dengan orang-orang yang disebutkan di atas. Ia mengatakan “ya”, tetapi tidak melaksanakan. Sementara itu, sang adik bersikap sebaliknya. Ia mengatakan “tidak”, tetapi akhirnya menyesal dan melaksanakannya. 

Konteks dari perumpamaan ini adalah perdebatan Yesus dengan imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi yang mempertanyakan asal dari kuasa-Nya. Yesus tidak langsung menjawab, tetapi meminta mereka lebih dahulu menjawab pertanyaan tentang asal baptisan Yohanes. Karena serba salah, mereka lalu mengatakan tidak tahu, sehingga Yesus pun tidak memberi jawaban atas pertanyaan mereka.

Yesus melanjutkannya dengan memaparkan perumpamaan ini. Ia lalu menanyakan siapa dari kedua anak itu yang melakukan kehendak ayahnya. Mereka memberikan jawaban yang benar dan berdasarkan jawaban itu, Yesus menegur mereka dengan mengatakan bahwa si sulung adalah gambaran mereka yang mengetahui kebenaran, tetapi tidak mau menerima dan melaksanakannya, sedangkan si bungsu adalah gambaran para pemungut cukai dan pelacur yang mau menerima kebenaran dan bertobat dari cara hidup mereka yang sesat. Yesus mengatakan bahwa para pemungut cukai dan para pelacur itu akan mendahului imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Perumpamaan ini menggambarkan dua tipe manusia, yakni anak pertama yang perkataannya lebih baik daripada perbuatannya dan anak kedua yang perbuatannya lebih baik daripada perkataannya. Mereka berasal dari satu ayah yang memberikan tanggung jawab yang sama kepada keduanya, yakni bekerja.

Sebagai orang beriman, kita mempunyai Bapa yang sama, yang memanggil kita semua untuk bekerja di kebun anggur-Nya. Kita bekerja agar menghasilkan buah-buah iman. Dalam menanggapi panggilan ini, kita mungkin seperti anak pertama yang dengan santun mengatakan “ya”, tetapi tidak melakukan apa pun, sehingga iman kita tidak pernah menghasilkan buah. Atau, kita mungkin seperti anak kedua yang tidak memedulikan panggilan itu, bahkan dengan tegas mengatakan “tidak” terhadap panggilan Tuhan, tetapi akhirnya menyesal dan berbalik untuk melaksanakannya. Jika kita berbalik dan melakukan kehendak Tuhan, iman kita akan menghasilkan buah berkelimpahan.

Lewat bacaan Injil hari ini, kita diajak untuk selalu siap bekerja, berbuat sesuatu untuk melaksanakan panggilan Tuhan. Jika kita mengatakan “ya” pada panggilan Tuhan, hendaklah kita berbuat sesuai kehendak-Nya. “Ya” hanya berarti bila kita melaksanakannya. Kalau kadang kita lalai dan tidak memedulikan panggilan-Nya, Tuhan tetap sabar menanti kita, seperti seorang Bapa yang baik. Yang dibutuhkan adalah penyesalan dan kemauan untuk berbalik serta melaksanakan kehendak-Nya. Mari kita menghidupi iman kita, bukan terutama dengan kata-kata, melainkan terutama dengan perbuatan.