Mewartakan Yesus dan Kerajaan Allah

Kamis, 5 Oktober 2023 – Hari Biasa Pekan XXVI

173

Lukas 10:1-12

Kemudian dari itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu. Tetapi jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah: Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat. Aku berkata kepadamu: pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu.”

***

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menunjuk tujuh puluh murid dan mengutus mereka berdua-dua mendahului Dia. Ini semacam persiapan untuk menyambut kedatangan Yesus. Yang menjadi tokoh sentral adalah Yesus, sedangkan para murid adalah utusan-Nya.

Sebelum mereka berangkat, Yesus berpesan, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” Mungkin dalam hati kita bertanya, “Kalau memang pekerja sedikit, mengapa para murid diutus berdua-dua? Mengapa tidak perorangan saja, sehingga sekali jalan mereka dapat mengunjungi tujuh puluh tempat?”

Ucapan Yesus berikutnya adalah jawaban atas pertanyaan itu, “Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.” Metafora ini menggambarkan bahwa melaksanakan tugas pengutusan itu tidak mudah. Ada banyak kesulitan yang akan menghadang para murid, bahkan mungkin mengancam hidup mereka. Inilah alasan Yesus mengutus murid-Nya berdua-dua. Bukankah kebersamaan akan membuat tim lebih kuat?

Selanjutnya Yesus berkata, “Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan.” Pundi-pundi, bekal, dan kasut adalah jaminan rasa nyaman karena ketersediaan secara materi. Yesus menginginkan para murid menggantungkan diri sepenuhnya pada Tuhan, bukan pada materi. Allah akan memelihara mereka dan menyelenggarakan yang terbaik. Yesus juga melarang para murid memberi salam selama dalam perjalanan agar mereka fokus pada apa yang menjadi misi mereka. Jika sibuk memberi salam, bisa jadi mereka tidak sampai ke tujuan, nyangkut di jalan karena berkomunikasi dengan orang-orang yang bukan mereka tuju.

Pesan Yesus berikutnya, para murid diminta membawa damai sejahtera, menyembuhkan orang sakit, dan mewartakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Yesus meminta para murid untuk melakukan kebaikan-kebaikan seperti yang sudah dilakukan-Nya. Kabar gembira bukan hanya pewartaan secara oral saja, melainkan juga perbuatan-perbuatan baik yang berasal dari Allah.

Bacaan Injil hari ini menginspirasi kita untuk melaksanakan tugas pengutusan dengan menjadikan Yesus sebagai satu-satunya pusat pewartaan. Kita harus menggantungkan diri sepenuhnya pada-Nya dan bukan pada materi, serta dengan tegas melawan godaan untuk mewartakan diri sendiri. Kebersamaan dengan sesama sangat perlu, sebab ini akan memberikan kekuatan bagi kita dalam menghadapi tantangan dan kesulitan. Kita harus fokus pada inti pengutusan. Di perjalanan akan banyak godaan, tetapi Tuhan meminta kita untuk tidak meladeni godaan-godaan itu. Pengutusan kita hendaknya membawa damai sejahtera dan kesembuhan kepada siapa pun yang kita jumpai. Marilah kita selalu berdoa dan memohon agar semakin banyak orang yang siap menjadi utusan-Nya.