Perihal Keramahtamahan

Senin, 6 November 2023 – Hari Biasa Pekan XXXI

108

Lukas 14:12-14

Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: “Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.”

***

Keramahtamahan merupakan jembatan emas yang menghubungkan hati setiap orang. Melalui keramahtamahan, kita menjadi saluran berkat bagi sesama dan memancarkan nilai-nilai luhur kehidupan. Melalui sapaan dan senyuman hangat, kita menciptakan sebuah lingkungan, di mana semua orang merasa dirangkul dan diterima dengan baik. Keramahtamahan sejati hanya didapatkan dalam hubungan yang terbuka, tidak kaku, dan tidak tebang pilih.

Hari ini, dengan ilustrasi tentang perjamuan, Yesus mengingatkan kita untuk memiliki kepedulian sosial dan kepekaan terhadap orang-orang yang hidupnya tidak beruntung. Ketika mengadakan perjamuan, hendaknya kita tidak hanya mengundang orang-orang terdekat, anggota keluarga, dan para sahabat. Undanglah juga orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh, dan orang-orang buta. Perlu dicatat bahwa Yesus di sini tidak bermaksud membatasi hubungan kita dengan para sahabat atau anggota keluarga. Ia hanya menghendaki agar kita selalu peka dan mengingat sesama yang membutuhkan, agar kita tidak memberi dengan mengharapkan balasan, juga agar kita tidak mementingkan pencitraan di hadapan sesama yang sangat membutuhkan uluran kasih.

Disadari atau tidak, banyak orang suka memanfaatkan hubungan mereka dengan orang lain demi menuai keuntungan dan kehormatan diri. Ingat, sikap semacam itu bukanlah ciri khas seorang pengikut Kristus! Yesus ingin agar kita selalu menanamkan semangat keramahtamahan dalam relasi kita dengan sesama, selalu memiliki kepedulian yang tulus, dan selalu memperhatikan sesama yang sangat membutuhkan. Melalui ilustrasi undangan perjamuan tersebut Yesus mengajak kita untuk bermurah hati dan untuk menjadi jembatan penyalur kasih Allah yang tanpa batas. Hanya dengan memberi secara tulus dan bebas, orang dapat bertumbuh sebagai pribadi yang berbelaskasihan. Tindakan memberi sesungguhnya tidak memiskinkan, tetapi justru memperkaya jiwa si pemberi. 

Mari bertanya pada diri kita masing-masing: Apakah kita membuat batasan-batasan dalam bermurah hati terhadap sesama? Bagaimana kita dapat memperluas kemurahan hati kita kepada mereka yang paling membutuhkan? Saya teringat akan “jalan kecil” dari St. Teresia dari Lisieux. Dalam upaya mencapai kesucian diri dan untuk menyatakan cinta kepada Tuhan, St. Teresia percaya bahwa kita tidak harus melakukan tindakan-tindakan besar, tetapi juga bisa melalui hal-hal kecil nan sederhana. Ia menulis, “Cinta membuktikan dirinya melalui tindakan. Jadi, bagaimana aku dapat menunjukkan cintaku? Aku tidak bisa melakukan hal-hal besar. Cara yang dapat kulakukan untuk membuktikan cintaku adalah dengan menyebarkan bunga, dan bunga ini adalah pengorbanan yang sangat kecil. Setiap pandangan dan kata, serta hal yang kulakukan adalah aksi cinta yang terkecil.”

Semoga kita dapat menanggapi undangan Yesus untuk lebih bersikap murah hati, dan semoga kita mampu menunjukkan keramahtamahan kita kepada semua orang tanpa memilah-milah.