Persembahan Janda Miskin

Senin, 27 November 2023 – Hari Biasa Pekan XXXIV

128

Lukas 21:1-4

Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.”

***

Persembahan adalah sebuah sikap iman, sebuah ungkapan syukur kepada Tuhan atas segala rahmat yang Ia berikan kepada kita. Persembahan merupakan tindakan mengembalikan kepada Tuhan segala hal yang Tuhan telah berikan, yakni rahmat, berkat, cinta, keselamatan, dan sebagainya. Karena itu, motivasi yang paling dalam dari memberi persembahan adalah ungkapan syukur, terima kasih, kerelaan, dan keikhlasan. Motivasi-motivasi lain yang kurang pas, seperti keterpaksaan serta demi imbalan, seharusnya dihindari. Persembahan tidak harus dalam bentuk materi, tetapi bisa juga tenaga, waktu, kepentingan, dan kesenangan pribadi. Terlibat aktif menjadi pengurus dalam hidup menggereja juga merupakan salah satu bentuk persembahan.

Janda miskin yang dikisahkan dalam bacaan Injil hari ini memberi inspirasi bahwa memberi dari kekurangan itu mungkin. Janda miskin ini memberi persembahan sebesar dua peser. Secara nilai, tentu saja ini sangat kecil. Namun, itu adalah seluruh uang yang ada padanya. Janda ini memberikan seluruh nafkahnya. Sikapnya itu menggambarkan totalitas. Persembahan tidak melulu diukur dari besarnya yang diberikan, tetapi dari ketulusan dan keikhlasan yang menyertai pemberian itu. Memberi untuk Tuhan tidak mengenal hitung-hitungan. Persembahan yang paling besar bagi Tuhan adalah pemberian diri yang total.

Memberi persembahan tujuannya adalah untuk bersyukur kepada Tuhan, bukan untuk pamer. Sering kali unsur pamer tidak bisa dielakkan dalam berbuat baik, termasuk dalam memberi persembahan. Lebih lagi, kita berada pada zaman di mana segala hal ingin selalu dipamerkan. Janda miskin itu memberikan persembahan secara diam-diam. Bisa jadi ia malu karena jumlahnya yang sedikit. Namun, Tuhan ternyata melihat dan menilainya sebagai persembahan yang luar biasa. Jadi, biarlah Tuhan yang menilai segala persembahan yang kita berikan. Tidak perlu mencari penilaian dari orang lain, apalagi penilaian dari diri sendiri yang sebenarnya adalah kesombongan.