Kekuatan Salam

Kamis, 21 Desember 2023 – Hari Biasa Khusus Adven

107

Lukas 1:39-45

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

***

Memasuki Masa Adven sesudah tanggal 17 Desember, melalui bacaan Injil, kita merenungkan kisah tokoh-tokoh yang secara khusus ambil bagian dalam persiapan kelahiran sang Imanuel. Hari ini, kita bersama-sama merenungkan kegembiraan Maria yang menerima kabar dari Malaikat Gabriel, yang mana kegembiraan itu kemudian dibawanya kepada Elisabet, saudarinya.

Pertama kali yang dilakukan Maria ketika masuk ke rumah Zakharia dan Elisabeth adalah memberi salam. Ketika Elisabet mendengar salam itu, melonjaklah anak yang ada di dalam rahimnya. Elisabet pun lalu penuh dengan Roh Kudus. Salam yang keluar dari hati yang penuh dengan sukacita ternyata mengalir dan menular kepada orang yang mendapatkannya, bahkan juga kepada janin yang berada dalam kandungan. Sungguh luar biasa kekuatan dari salam itu!

Salam adalah cara bagi seseorang untuk secara sengaja mengomunikasikan kesadaran akan kehadiran orang lain, untuk menunjukkan perhatian, dan untuk menegaskan jenis relasi atau status sosial antarindividu. Binatang pun melakukannya saat saling bertemu satu dengan yang lain. Salam bisa dalam bentuk ucapan berupa kata atau frasa yang digunakan untuk memperkenalkan diri atau menyapa orang lain, seperti “halo” atau “apa kabar” atau “syalom”. Bukan hanya kata, salam juga dapat berupa gerakan, misalnya jabat tangan, anggukan, cium tangan, cium pipi, dan lain sebagainya. Baik berupa kata maupun tindakan, salam mengungkapkan sapaan, perhatian, dan kesadaran akan kehadiran orang lain sebagai sesama, asalkan diungkapkan dengan kesungguhan hati, bukan sekadar basa-basi.

Kehadiran Maria yang pada hari ini membawa salam sukacita kepada Elisabet semoga menginspirasi kita. Semoga itu menggerakkan kita untuk membagikan cinta dan kasih kepada semakin banyak orang di sekitar kita. Menjadi permenungan dan refleksi bagi kita: Pengalaman sukacita apa yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita? Apakah kita juga berani membagikan sukacita itu kepada orang-orang di sekitar kita? Mari kita membawa kasih, sukacita, dan damai sejahtera kepada setiap orang yang kita jumpai hari ini. Semoga salam yang kita ucapkan bukan hanya sekadar basa-basi, melainkan penuh makna karena keluar dari hati yang terdalam.