Murid yang Terikat Hanya kepada Tuhan

Kamis, 1 Februari 2024 – Hari Biasa Pekan IV

56

Markus 6:7-13

Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat, dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, roti pun jangan, bekal pun jangan, uang dalam ikat pinggang pun jangan, boleh memakai alas kaki, tetapi jangan memakai dua baju. Kata-Nya selanjutnya kepada mereka: “Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu. Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.” Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat, dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka.

***

Murid adalah orang yang berjalan mengikuti dan meneladan gurunya. Sejak pembaptisan, kita semua adalah murid-murid Tuhan Yesus. Para murid Yesus bertugas meneruskan dan memperluas misi Yesus sendiri. Apa yang harus kita lakukan sebagai murid berkaitan dengan pengutusan kita mengemban misi Tuhan itu? Bagaimanakah seharusnya sikap utusan sang Guru di dalam kehidupan ini?

Penginjil Markus mengisahkan momen di mana Tuhan Yesus memberikan pesan-pesan kepada kedua belas rasul. Pesan-pesan tersebut tidak pernah lekang oleh waktu dan tetap berlaku bagi kita semua, penerus para rasul. Yang paling utama, diingatkan bahwa para murid diberi kuasa atas roh-roh jahat. Kuasa Tuhan ada dalam diri mereka. Ini tidak kemudian berarti mereka menjadi lebih hebat dari orang lain. Kuasa atas roh jahat ada dalam diri murid-murid Yesus hanya jika mereka selalu melekat kepada Yesus. Kuasa itu mereka miliki, sebab Tuhan selalu ada, hadir, dan berjalan bersama mereka.

Kemudian Yesus berpesan tentang cara mempersiapkan perjalanan misi. Umumnya jika akan bepergian, apalagi ke tempat yang jauh, kita akan sibuk menyiapkan banyak perlengkapan. Namun, perjalanan misi bukanlah perjalanan biasa. Yesus berpesan untuk hanya membawa tongkat, baju yang melekat di badan, serta alas kaki. Lupakan bekal untuk berhari-hari, apalagi uang. Menurut pandangan umum, ini jelas langkah yang gegabah, bahkan mungkin terkesan konyol. Namun, bagi Tuhan, persiapan yang utama dan terpenting dalam perjalanan misi adalah persiapan iman. Siapkanlah iman untuk pewartaan Kabar Baik dan pertobatan bagi banyak jiwa. Tuhan tidak ingin fokus para murid terpecah, apalagi sampai memusatkan perhatian pada keselamatan diri sendiri. Kuasa duniawi tidak boleh diandalkan demi keselamatan hidup. Kuasa dan kehadiran Tuhan adalah satu-satunya jaminan keselamatan manusia, terutama para pewarta Kabar Baik.

Selanjutnya, penting bagi seorang murid untuk memiliki sikap yang pantas di tengah pengutusannya. Misi yang dijalankan dengan kuasa Roh Tuhan belum tentu diterima baik oleh umat. Karena itu, jika seorang misionaris diterima di suatu tempat, ia harus tinggal di sana hingga saat ia berangkat kembali. Kerendahan hati merupakan salah satu ciri khas sang Guru, selain belas kasih. Yesus ingin para murid tahu menerima pemberian atau kemurahan hati orang lain dengan sikap rendah hati dan selalu bersyukur. Ladang misi tidaklah selalu indah dan nyaman, namun ketulusan dan penerimaan umat setempat selalu harus dihargai dan disyukuri. Sebaliknya, ketika para murid dan pewartaan Kabar Baik ditolak, mereka tidak perlu marah, tersinggung, atau ngotot. Kebaskan saja debu di kaki, lalu pergilah dari tempat itu. Keselamatan Tuhan ditawarkan kepada siapa saja tanpa pilih-pilih. Setiap pribadi diberi kebebasan untuk menyambut atau menolaknya. Karena itu, perlu diingat baik-baik, para murid tidak boleh memaksa orang untuk menerima keselamatan. Tugas mereka hanya satu: Terus menawarkan dan mewartakan Kabar Baik.