Kunci Sehat 4: Dialog

Kamis, 8 Februari 2024 – Hari Biasa Pekan V

57

Markus 7:24-30

Lalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan. Malah seorang ibu, yang anaknya perempuan kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya. Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya. Lalu Yesus berkata kepadanya: “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Tetapi perempuan itu menjawab: “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” Maka kata Yesus kepada perempuan itu: “Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu.” Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar.

***

Perjumpaan Yesus dan perempuan Siro-Fenisia memberi inspirasi bagi kita akan dinamika kehidupan. Perempuan Siro-Fenisia yang adalah seorang ibu tersebut menunjukkan kegigihan, keuletan, dan keberaniannya dalam mengusahakan kesembuhan bagi anaknya.

Salah satu dinamika hidup yang sehat adalah dialog. Perempuan Siro-Fenisia itu berdialog dengan Yesus. Meskipun pada awalnya Yesus terkesan menolak permintaan perempuan tersebut, dialog yang terjadi di antara keduanya membuka perspektif dan wawasan baru, sehingga Yesus akhirnya berkenan memberikan kesembuhan bagi anak si perempuan.

Hidup yang sehat adalah hidup yang mau mendengarkan. Dialog tidak akan terjadi apabila kita tidak mau mendengarkan. Dengan mendengarkan berarti kita menutup mulut dan memberi orang lain kesempatan untuk menyampaikan isi hati dan pikirannya. Berdialog bukan berdebat. Berdialog berarti mendengarkan bagaimana Roh Tuhan bekerja dalam kehidupan.

Meskipun memiliki dua telinga dan satu mulut, banyak orang ternyata lebih senang berbicara daripada mendengarkan. Itu sebabnya dunia kita adalah dunia yang riuh. Masing-masing orang berusaha menjadi pusat perhatian, dengan konsekuensi mengabaikan orang-orang lain di sekitarnya.

Yesus tidak keras kepala. Ia mendengarkan perempuan Siro-Fenisia itu. Yesus menjadikan perempuan Siro-Fenisia pusat perhatian. Apa akibatnya? Mukjizat terjadi! Penyembuhan terjadi! Rahmat dilimpahkan! Hanya dengan mendengarkan, kita bisa mengusahakan kebaikan.

Marilah kita mohon rahmat Tuhan agar dimampukan untuk berdialog dan mendengarkan. Roh Tuhan senantiasa mengundang kita untuk mendengarkan Kristus yang terus bekerja.