Kunci Sehat 5: Keterbukaan

Jumat, 9 Februari 2024 – Hari Biasa Pekan V

56

Markus 7:31-37

Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu. Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik napas dan berkata kepadanya: “Efata!”, artinya: Terbukalah! Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceritakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya. Mereka takjub dan tercengang dan berkata: “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.”

***

Salah satu kunci hidup sehat adalah keterbukaan. Mereka yang mampu terbuka, mampu mengungkapkan emosi-emosi, pikiran, dan perasaannya, akan bisa mengenali diri secara lebih jernih dan utuh, dan dengan demikian menjadi pribadi yang semakin sehat. Sebaliknya, ketertutupan hati bisa mendorong individu pada kondisi sakit. Mereka yang tertutup akan mudah mengalami stres. Tantangan-tantangan pada kesehatan mental juga terjadi karena diri yang tertutup.

Meskipun demikian, banyak orang ternyata lebih memilih untuk menjadi tertutup daripada terbuka. Tertutup dirasa membawa kenyamanan. Terkadang masyarakat dan dunia secara keliru memberi tepuk tangan pada pencapaian prestasi yang sebenarnya menutupi keaslian diri. Kita lebih nyaman menggunakan topeng-topeng yang pada akhirnya membuat kita semakin tertutup dan tidak mengenali diri kita sendiri. Ledakan emosi yang tak terkendali, konflik, dan kekecewaan merupakan beberapa contoh bagaimana ketertutupan hati membawa konsekuensi berat yang merugikan diri sendiri.

Menjadi terbuka memang membutuhkan proses dan latihan. Tentu ada rasa tidak nyaman ketika kita terbuka, namun pribadi yang terbuka berarti pribadi yang punya peluang untuk bertumbuh dan berkembang. Sebaliknya, pribadi yang tertutup berpeluang menjadi pribadi  yang kerdil dan mandek.

Yesus adalah pribadi yang terbuka. Ia berkembang dalam cinta kepada Bapa dan sesama. Orang-orang begitu dekat dengan Yesus karena Dia terbuka. Bahkan dalam konflik dengan para ahli Taurat dan orang Farisi, keterbukaan Yesus menjadikan Dia bebas dan tetap hormat kepada pihak lawan.

Marilah kita belajar untuk berani menjadi pribadi yang terbuka. Keterbukaan dan keaslian diri merupakan kunci kesehatan mental kita.